Jadi Arsitek Politik Zul-Rohmi, Prestise TGB Dipertaruhkan

Mataram, Kahaba.- Direktur Lembaga Sosial Politik Mi6 NTB Bambang Mei Finarwanto menilai Gubernur NTB TGH Zainul Majdi atau akrab disapa TGB mempertaruhkan segalanya dibalik kreasi politiknya untuk memenangkan Bakal Pasangan Calon Gubernur-Wakil Gubernur NTB Zulkieflimansyah-Siti Rohmi (Zul-Rohmi).

Pasangan Zul-Rohmi

Menurut Bambang, TGB sadar bahwa eksperimen paket Zul-Rohmi akan punya effect domino yang luas dan dahsyat jika mengalami turbulensi di luar prediksi. Sadar posisinya dipandang sebagai underdog, Zul-Rohmi justru menjawabnya dengan makin rapi bergerak dan seolah-olah tanpa beban.

Mantan Eksekutif Daerah Walhi NTB menganalisa, kecepatan gerak Zul-Rohmi dalam melakukan penetrasi dan membuka jejaring baru pemilih sebagai strategi taktis untuk menambah barisan loyalis vottersnya di tengah lambannya gerak Bakal Paslon lain.

“Celah ini yang kemudian dimanfaatkan Zul-Rohmi masuk ke jantung pertahanan paslon dikala lengah,” tutur pria yang akrab dipanggil Didu ini melalui siaran pers kepada Kahaba.net, Jum’at (9/2).

Tak hanya itu, baginya permainan politik yang ditampilkan dalam Pilgub NTB ini akan menjadi pertaruhan prestise dan truff politik TGB. Hal ini tentu terkait bagaimana marwah kekuasaan politik di NTB tetap dipertahankan dan dipegang.

“TGB tidak ingin hasil Pilgub NTB nanti out of control,” ujarnya .

Meskipun demikian lanjut Didu, dengan empat Paslon yang kemungkinan tampil di Pilgub NTB kekuatan politik dan dukungan semua calon berimbang. “Tidak ada Matahari tunggal di Pilgub NTB,” kata Didu sembari menyebut bocoran info lembaga survey konon elektabilitas masing-masing paslon tidak terpaut dan Zul-Rohmi masuk urutan ke empat elektabilitasnya.

Direktur Mi6 ini meminta agar  paket Zul-Rohmi sebagai antitesa politik perlu menyakinkan ke publik yang masih meragukan ikhtiar dan kapasitasnya bisa menandingi kekuatan tiga jawara politik lainnya.

“Dikalangan kelas menengah lebih mudah diyakinkan persepsinya, tapi untuk masyarakat jelata perlu dibangun solidaritas dan empati sosial. Dan ini perlu pendekatan ekstra ordinary,” tandas Didu.

Dalam pandangan Mi6, belajar dari kemenangan TGB pada pilkada 2008 silam yang menjadi paslon tak diunggulkan dibanding incumbent saat itu, diprediksi  Zul-Rohmi diarahkan seperti nostalgia politik TGB tahun 2008 yang berakhir dengan happy ending tersebut.

“Saat itu di Pilgub NTB tahun 2008, publik cenderung tidak mengunggulkan pasangan TGB-Badrun Munir melawan incumbent paslon Serinata-Husni Jibril yang berakhir dengan kemenangan telak TGB-Bam itu,” ungkap didu .

Sebagai sutradara politik, lanjutnya, gerakan dan manuver Zul-Rohmi mirip dengan apa yang dilakukan TGB dulu yaitu mengandalkan kecepatan gerak dalam melakukan penetrasi step by step pada semua lini dan titik konsentrasi pemilih . Ciri lainnya adalah Zul-Rohmi cenderung menguasai kantong-kantong pemilih di pinggiran atau akar rumput.

“Ini kemudian yang membentuk jaring jaring pemilih yang terintegrasi satu sama lain pada setiap kontak person di wilayah yang membentang dari Mataram hingga Bima,” tuturnya .

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *