BI Sosialisasi Kebanksentralan di STIE Bima

Kota Bima, Kahaba.- Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTB menggelar sosialisasi Kebanksentralan, Pengelolaan Uang Rupiah dan Sistem Pembayaran di kampus STIE Bima, Rabu (14/2). Kegiatan tersebut diikuti dosen dan ratusan mahasiswa kampus setempat.

Sosialisasi Kebanksentralan oleh BI di STIE Bima. Foto: Bin

Ketua STIE Bima Firdaus dalam sambutannya menyampaikan ucapan terimakasih kepada BI Perwakilan NTB, karena sudah sering menggelar kegiatan dan sosialisasi di STIE Bima.

“Dan ini kesekian kalinya digelar BI di STIE. Kami merasa bangga dan menyambut gembira kehadiran BI,” katanya.

Ia mengaku, kehadiran BI pada hari ini menjadi kehormatan buat STIE Bima. Karena sosialisasi digelar bertepatan dengan HUT STIE Bima yang ke-16. Dirinya pun berharap, semoga hubungan baik ini terus terjalin untuk tahun – tahun mendatang.

Menurut Firdaus, materi sosialisasi yang disampaikan oleh BI akan sangat berguna untuk seluruh civitas akademika STIE Bima. Bahkan sangat berkaitan dengan salah satu mata kuliah di STIE yakni Bank dan Lembaga Keuangan lainnya.

“Harapan saya, dosen dan mahasiswa bisa mengikuti kegiatan ini dengan baik, menyerap pengetahuan dari materi yang disampaikan. Agar mampu meningkatkan pemahaman tentang ekonomi dan perbankan,” harapnya.

Di tempat yang sama, Wakil Direktur BI Perwakilan NTB Lalu Ocky Ganesia menjelaskan, Bank sentral merupakan instansi yang bertanggungjawab atas kebijakan moneter disuatu wilayah tersebut. Tugansya, berusaha menjaga stabilitas nilai mata uang, stabilitas sektor perbankan, dan sistem finansial secara keseluruhan.

“Di Indonesia, fungsi bank sentral diselenggarakan oleh Bank Indonesia,” sebutnya.

Kata dia, bank sentral bermula dari De Javasche Bank yang didirikan pada zaman Hindia Belanda. setelah Indonesia merdeka, bank tersebut dinasionalisasi menjadi Bank Indonesia dan berada di bawah kewenangan pemerintah Indonesia.

Ketua STIE Bima Firdaus saat menyampaikan sambutan pada acara kebanksentralan. Foto: Bin

Pada awal periode kemeredekaan, bank Indonesia masih melakukan usaha komersial. Namun dalam perkembangannya, usaha tersebut dihentikan. Apalagi semenjak krisis moneter yang dialami Indonesia pada tahun 1997-1998, Bank Indonesia diberikan independensi untuk fokus pada tujuan utama, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.

“Tugas utama bank sentral sendri yakni menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran,” paparnya.

Sementara itu, pemateri lain dari BI yakni Alex Iskandar menyampaikan materi Ciri Keaslian Uang Rupiah Tahun Emisi 2016. Kata dia, Bank Indonesia mengeluarkan uang rupiah waktu itu dalam 11 pecahan. 7 pecahan uang kertas dan 4 pecahan uang logam. Keinginan dikeluarkan pecahan uang dimaksud, bukan saja menjai keinginan Bank Indonesia, tapi juga amanat UU.

Proses dikeluarkannya pecahan uang itu sambungnya, dimulai dari perencanaan yang matang. Kemudian dicetak, dikeluarkan dan diedarkan. Lalu, karena uang itu memiliki usia edar, maka dicabut dan ditarik peredarannya, setelah itu baru kemudian dimusnahkan.

Pada kesempatan itu Alex juga memaparkan, uang pada tiap pecahannya dilengkapi dengan unsur pengamanan yang lebih kuat, guna menanggulangi peredaran uang palsu. Antara lain melalui penguatan unsur pengaman.

“Dari sisi color shifting saja, apabila dilihat dari sudut pandang yang berbeda, akan terjadi perubahan warna secara kontras. Dari sisi rainbow feature, apabila dilihat dari sudut pandang tertentu akan muncul gambar tersembunyi multi warna berupa angka nominal,” jelasnya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *