Politik Praktis Oknum Guru, Alwi: Segera Pilih Mengajar atau Berpolitik

Kota Bima, Kahaba.- Ulah oknum guru SDN 32 Kota Bima Mahyudin Mas’ud yang terlibat dalam politik praktis saat acara pengambilan nomor urut pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bima dikecam Dinas Dikbud Kota Bima. Yang bersangkutan akan segera dipanggil. (Baca. Oknum Guru Ini Pakai Atribut Partai dan Hadir Saat Pengambilan Nomor Paslon)

Mas’ud saat foto bersama salah satu pasangan calon mengenakan atribut partai. Foto: Istimewa

“Karena sudah masuk tahapan Pilkada, kami menunggu rekomendasi hasil klarifikasi Panwaslu,” ujar Kadis Dikbud Kota Bima H Alwi Yasin, Rabu (14/2).

Sembari menunggu hasil rekomendasi Panwaslu, pihaknya sebagai atasan akan segera memanggil Mahyudin Masud untuk dimintai klarifikasi. Sebab kehadirannya telah meninggalkan tugas sebagai guru untuk mengajar di sekolah, dan memilih untuk berkampanye.

“Ini sudah tidak dibenarkan, guru sejatinya mengajar. Tapi dia ini malah ikut agenda politik,” katanya.

Diakui alwi, Mahyudin Mas’ud merupakan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) yang di biayai oleh negara. Maka seharusnya tetap mengikuti aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Baik ASN maupun pegawai kontrak, tetap harus mematuhi aturan yang berlaku. Bukan justeru ikut berpolitik praktis.

“Mahyudin Mas’ud akan dipanggil dan akan kami berikan pilihan. Mau jadi guru atau berpolitik,” tegasnya.

Atas kejadian yang memalukan dunia pendidikan tersebut, pihak dinas tetap akan memberikan warning siapapun tenaga pendidik yang ikut politik praktis. Baik pegawai negeri maupun pegawai kontrak, agar tidak ikut terlibat.

“Fokus mengajar, bukan kampanye,” tandasnya.

Ketika dintanyakan apakah ada sanksi tegas, Alwi belum bisa memberikan kepastian, karena harus ada tahapan dan prosedur.

*Kahaba-04

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *