Edukasi Politik Ala Papan Putih, Energi Kemenangan Lutfi-Feri

Kota Bima, Kahaba.- Ada hal menarik yang dilakukan pasangan calon Walikota-Wakil Walikota Bima Lutfi-Feri setiap kesempatan kampanye dan tatap muka dengan masyarakat. Dimana-mana lokasi kunjungan, selalu menyelipkan edukasi politik kepada masyarakat menggunakan papan tulis berwarna putih.

Darussalam saat menyampaikan edukasi politik di Lingkungan Gilipanda Kelurahan Sarae. Foto: Ady

Edukasi dan pencerahan politik itu bukan dilakukan sendiri oleh Pasangan Lutfi-Feri, melainkan sang konsultan politik Darussalam. Lewat papan tulis, Darussalam secara detail memaparkan data, fakta, indikator politik hingga sejarah politik dan transisi kekuasaan di Kota Bima.

Sudah ratusan kali papan tulis dibawa kemana-mana oleh Darussalam setiap kunjungan tatap muka Lutfi-Feri dengan masyarakat Kota Bima. Alhasil, masyarakat calon pemilih semakin tercerahkan dan yakin dengan pilihan politiknya mendukung pasangan nomor urut 2 di Pilkada Kota Bima.

“Masyarakat semakin yakin dan semakin berubah. Jadi sebenarnya ini tidak hanya karena faktor kekuatan paslon, tetapi karena kondisi sosial masyarakat yang memang mulai jenuh dengan pemimpinnya,” kata Darussalam diwawancarai disela kampanye Lutfi-Feri di Kelurahan Sarae, Selasa (27/2) sore.

Menurut pemuda yang pernah menjadi konsultan politik Qurais-Arahman (Qurma Manis) saat Pilkada sebelumnya ini, fenomena masyarakat Kota Bima saat ini persis seperti Pilkada DKI Jakarta tahun lalu. Hanya variabelnya saja yang berbeda.

Kata dia, jika di DKI Jakarta karena faktor pemimpin dengan karakter yang kasar dan kasus penodaan agama, maka di Bima faktornya karena masyarakat menganggap pemimpin tidak hadir saat mereka ditimpa musibah banjir.

Darussalam saat menyampaikan edukasi politik di Kelurahan Rabangodu Selatan. Foto: Bin

Ditambah persoalan kemiskinan yang semakin hari semakin tinggi angkanya. Kemudian faktor karakter pemimpin hari ini yang dianggap pelit. Faktor ini sebenarnya menurut Darussalam, dalam ilmu sosiologis dekat dengan kebencian. Sebab masyarakat merasa pemimpin tidak hadir dikala mereka mengalami berbagai musibah.

Makanya sambung dia, kenapa reaksi publik itu begitu antusias karena sikap mereka didasari perasaan masyarakat yang tidak terungkapkan. Hal itu terbukti, ketika ia mengatakan ke masyarakat selalu disambut dengan teriakan.

“Ini hasil survey terhadap kondisi obyektif masyarakat Kota Bima. Bisa dilihat, ketika kita sebut pemerintah gagal menangani persoalan banjir, semua masyarakat yang hadir berteriak menyampaikan kekecewaan bahwa itu adalah benar,” ujarnya.

Soal ada pihak yang sentimen dengan edukasi politik ala papan tulis, menurutnya sikap itu lebih karena faktor tidak paham filosofi papan tulis. Padahal filosofi papan tulis hanya satu. Kita bisa membaca menulis karena papan tulis. Nah, baginya pemilih harus dicerdaskan. Kalau kita mau pemilihnya cerdas dan demokrasi berkualitas maka dia mengajak berdialog terbuka seperti yang dilakukannya.

“Sampaikan apa yang menjadi konsep kita, yang penting tidak menyampaikan kebohongan karena dalam papan tulis itu adalah data dan fakta. Itu sudah saya buktikan efeknya. Sehingga tidak ada yang komplain, karena memang faktanya demikian,” jelas dia.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *