AR Ditangkap, Warga Roka Gelar Demonstrasi

Kabupaten Bima, Kahaba.- Massa asal Desa Roka, Selasa (9/10/2012) siang tadi menggelar demonstrasi di Mapores Bima Kabupaten. Aksi itu merupakan buntut penangkapan AR (Abdul Rafik) Warga Desa Renda yang tinggal di Roka. Rafik sendiri adalah terduga penembakan terhadap Irwan, warga Desa Roi yang meninggal dunia saat bentrokan antar Desa Roi dan Roka yang terjadi, Senin, 1 Agustus 2012 pekan lalu.

Perang antar Desa Roi dan Desa Roka yang terjadi, Senin, 1 Oktober 2012 pekan lalu. Foto: Cen

Ratusan massa asal Desa Roka yang dipimpin Baharudin, dalam tuntutannya meminta pihak kepolisian untuk membebaskan Abdul Rafik (36). Baharudin menilai, Rafik bukanlah pelaku penembakan sebagaimana yang dituduhkan pihak kepolisian.

“Pihak Kepolisian, tidak bisa langsung menangkap tanpa bukti yang jelas. Dasar apa, sehingga pihak Kepolisian menangkap Rafik di rumahnya, Senin malam kemarin?,” sorot Baharudin.

Ia menambahkan, pihak kepolisian jangan sebelah pihak dan hanya memproses warga Desa Roka. Semestinya, kepolisian juga menangkap warga Desa Roi, yang ditudingnya sebagai provokator bentrokan antar kampung itu. “Polisi harus adil dalam memproses bentrokan antar Desa Roi dan Roka. Jangan hanya Warga Roka yang ditangkap, sementara Warga Roi tak diproses sama sekali,” tuntutnya.

Isrti Rafik, Sri, yang ditemui sejumlah media menjelaskan, suaminya dibawa dua orang polisi berpakaian preman, Senin (8/10/2012) malam kemarin, saat duduk di rumahnya, di Desa Renda. Cerita Sri, polisi tanpa basa-basi dan langsung membawa suaminya. Sri pun meminta agar kepolisian membebaskan suaminya, karena memang bukan suaminya yang telah melakukan penembakan terhadap Almarhum Irwan.

“Saya minta pihak kepolisan membebaskan suami saya,” ungkap Sri, saat mengikuti demonstrasi di Mapolres Bima Kabupaten, Selasa siang tadi.

Sekitar pukul 14.00 Wita, massa aksi dipersilahkan pihak kepolisian menggelar demonstrasinya di halaman kantor Mapolres Bima Kabupaten. Sebelum masuk ke halaman kantor, setiap orang diperiksa untuk menghindari membawa senjata tajam. Setelah negosiasi antara pihak kepolisian dan massa aksi. Perwakilan mereka di terima pihak kepolisian dan menyampaikan aspirasinya di dalam ruang pertemuan kantor se tempat.

Sekitar setengah jam mereka membahas persoalan itu. Akhirnya, tak ada hasil yang dicapai. Terlihat wajah murung dari perwakilan massa seusai pertemuan itu berlangsung.

Saat aksi, terlihat satu pleton Brigader Mobile (Brimob) dan satu unit mobil Baracuda yang ikut mengamankan aksi warga Roka tersebut. Insan media yang hendak mengikuti pertemuan itu pun, tidak diperkenankan masuk ke dalam ruangan. [BS/BM]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *