Pakar: Alasan Miskomunikasi, Perlihatkan Bobroknya RSUD Bima

Kabupaten Bima, Kahaba.- Kasus bayi bernama Julkaidah berusia 5 hari yang jenazahnya terpaksa dipulangkan menggunakan sepeda motor dari RSUD Bima, hingga Desa Waro Kecamatan Monta lantaran tak punya biaya sewa ambulan disesalkan banyak pihak. (Baca. Tak Mampu Sewa Ambulance, Jenazah Bayi Ini Dipulangkan Pakai Motor)

Pakar Perumahsakitan Nasional Doktor Hermawan Saputra. Foto: Istimewa

Tanggapan pun datang dari Pakar Perumahsakitan Nasional Doktor Hermawan Saputra. Menurut Hermawan alasan RSUD Bima yang menyebut ada miskomumikasi petugas terkait kejadian tersebut justru memperlihatkan bobroknya mutu pelayanan yang ada di RSUD Bima. (Baca. Jenazah Bayi Dipulangkan Pakai Motor, RSUD Bima Belum Bisa Beri Penjelasan)

“Bagi saya model komunikasi oleh Humas Rumah Sakit yang menyebutkan adanya mis komunikasi malah membuka bobroknya mutu layanan RSUD itu sendiri. Bagaimana tidak? RSUD Kabupaten Bima seolah tidak memiliki standar prosedur operasional layanan,” ungkap pria asli Kecamatan Sape kepada media ini, Kamis (15/3).

Tak hanya itu, bagi Hermawan kasus ini juga menunjukkan tidak adanya komunikasi informasi dan edukasi (KIE) RSUD Bima kepada pasiennya. Hal tersebut terlihat dari adanya petugas yang terkesan saling menunggu dan meminta keputusan satu sama lain. (Baca. Ihsan Minta Maaf, Begini Cerita Versi RSUD Bima Soal Jenazah Bayi Asal Wora)

“Dalam standar akreditasi rumah sakit tentang hak pasien dan keluarga (HPK) dan kualifikasi dan pendidikan staf (KPS) telah diatur detail melalui elemen-elemen penilaian betapa pentingnya ketanggapan dan komunikasi efektif bagi pasien dan keluarga,” jelasnya. (Baca. Inspektorat Turun ke RSUD Bima, Investigasi Soal Jenazah Bayi Dipulangkan Pakai Motor)

Padahal kata dia, RSUD Kabupaten Bima telah melewati fase Akreditasi Perdana sebagai Rumah Sakit. Namun, dengan adanya kejadian ini justru membuat capaian tersebut hanya menjadi formalitas belaka.

“Ironi memang, justru ketika RSUD Kab Bima melewati fase Akreditasi Perdana sebagai standar pengakuan dasar mutu layanan (mencakup HPK dan KPS) justru fakta berkata lain,” kata Hermawan.

Munculnya kasus yang kini heboh dan viral di media sosial ini sambung dia, merupakan cermin hilangnya perhatian dan ketanggapan layanan kesehatan sejak dini. Ironisnya, RSUD Bima justru mengenakan tarif layanan ambulance bagi warga tidak mampu sehingga mengabaikan suasana  keluarga yang sedang berduka.

Pria yang juga Dokter ini pun mengajak kepada semua pihak yang ada di Bima untuk membangun layanan kesehatan yang tanggap dan peduli.

“Mari kita bersama membangun layanan kesehatan di Bima ke depan lebih tanggap dan peduli,” ajak Hermawan.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

  1. batman

    dari dlu sampe skrang RSUD Bima ya begitu,perawat n pegawainya kayak preman,hobi bentak2 orang…kalo dah viral begini bru alsannya 1000 macam, kayak orang tdak tahu ja….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *