Nenek Ditampar dan Diludahi Oknum Staf Desa, Begini Cerita Kades Timu

Kabupaten Bima, Kahaba.- Menanggapi adanya kasus yang dialami Mahani (60) warga RT 6 RW 2 Dusun Dua Desa Timu yang diduga dilakukan oleh oknum staf Desa Timu, kepala Desa Timu Arsyad H  Djamaludin angkat bicara. (Baca. Mahani, Nenek Ini Ditampar dan Diludahi Oknum Staf Desa)

Kepala Desa Timu Arsyad H. Djamaluddin. Foto: Yadien

Menurut Arsyad, waktu itu pihaknya memanggil Mahani bersama Muhammad Arsyad suaminya ke kantor desa karena keduanya terlibat cekcok di sawah.

“Daripada mereka berkelahi di sawah, makanya saya panggil ke kantor,” katanya, Jumat (23/3).

Saat itu, dirinya juga menghadirkan Babinkabtinmas agar proses mediasi dapat dilakukan. Namun saat di kantor desa, Mahani bersama suaminya tetap cekcok dan saling meludahi.

“Dia sama suaminya yang saling meludahi. Jadi tidak benar staf MS saya yang meludahi muka Mahani,” ungkapnya.

Kata Arsyad, MS staf desa setempat merasa tersinggung karena Mahani bersama suami masih cekcok. Kemudian MS menampar Mahani.

“Staf saya tersinggung karena merasa mereka tidak menghargai saya,” tuturnya.

Soal tanah sambung Arsyad, tanah yang diperselisihkan tersebut merupakan tanah milik pemerintah desa yang diperuntukan untuk marbot masjid yaitu suaminya Mahani. Oleh suaminya Mahani, tanah itu disewakan kepada orang lain. Namun Mahani tidak terima dan keberatan.

“Sekarang tanah tersebut telah digarap oleh orang yang menyewa pada suami Mahani,” ujarnya.

Saat ini, pihaknya melakukan upaya mediasi kepada kedua pihak, termasuk oknum staf desanya agar bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Dirinya juga sudah memanggil dan melakukan pembinaan untuk MS.

Sementara itu, MS oknum staf Desa Timu yang telah menampar Mahani masih belum bisa dikonfirmasi karena sedang melakukan tugas di luar desa.

*Kahaba-10

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *