Debat Publik Paslon Tak Berefek Pada Pemilih, Isinya Hambar dan Membosankan

Kota Bima, Kahaba.- Jalannya debat terbuka Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Bima 2018 yang dilaksanakan KPU Kota Bima menuai kritikan sejumlah pihak. Debat tidak saja bikin jenuh dan membosankan, isi debat pun dinilai hambar dan nyaris tak berefek apa-apa pada pemilih. (Baca. Acara Debat Publik Paslon Kurang Greget dan Tidak Seru)

Akademisi STISIP Mbojo Bima Doktor Syarif Ahmad. Foto: Ady

Kritikan ini disampaikan Akademisi STISIP Mbojo Bima Syarif Ahmad, Selasa (17/4) siang terhadap pelaksanaan keseluruhan debat di Paruga Nae Convention Hall Kota Bima yang diikuti 3 pasangan calon.

“Tidak ada yang bisa diambil oleh pemilih sebagai referensi. Paslon bilang apa, bicara apa dan mengikat pemilih seperti apa tidak jelas. Semua datar, hambar seperti sayur tanpa garam dan membosankan,” kata Syarif.

Syarif sendiri mengaku menyaksikan debat lewat streaming facebook, itu pun tidak sampai selesai karena jenuh dan membosankan. Ia melihat debat tadi pagi belum maksimal dikelola dengan apik oleh penyelenggara. Isi debat yang disampaikan paslon dianggap sudah sering berseliweran di media sosial.

“Tidak ada hal-hal yang baru, kemudian yang menukik dan memberikan garansi pada para pemilih,” ujarnya.

Menurut dia, kelemahan pelaksanaan debat terletak pada penyelenggara, dalam hal ini KPU Kota Bima. Karena untuk mengukur penguasaan materi paslon sangat ditentukan oleh desain acara penyelenggara. Penguasaan materi paslon akan nampak kalau para penyelenggara mampu mendesain debat secara apik dan maksimal. Sehingga setiap segmen debat ada poin yang bisa dipegang sebagai referensi masyarakat untuk memilih.

“Ini kan menurut saya datar saja, bukan saja membosankan tetapi membuat orang jenuh dan tidak menarik. Justru yang lebih hangat, debat pada tingkat ide dan gagasan di tingkat kampus,” kritiknya.

Mestinya lanjut Alumni S3 Universitas Indonesia ini, debat politik harus jelas. Sebab jika disimak apa yang disampaikan paslon tadi sudah sering diumbar di media sosial dan disampaikan lewat kampanye. Debat mestinya mampu menggambarkan bagaimana pengelolaan dan pengemasan acara debat tidak menjenuhkan.

“Ada kesan kaku dan hambar juga. Tidak ada yang baru. Tidak ada yang lebih. Justru lebih fasih disampaikan lewat medsos tanpa biaya apa-apa,” tutur dia.

Di sesi awal ketika pembukaan saja, Syarif sudah bisa menebak alur debat pasti kaku. Untuk itu, ia berharap kritikannya bisa menjadi bahan evaluasi KPU untuk pelaksanaan debat berikutnya.

Sebab menurutnya, bicara demokrasi kata kuncinya selain dari peserta, kontestan pilkada, yang paling penting itu adalah penyelenggara. Kompetensi penyelenggara sangat dituntut, tidak sekedar bicara independensi, klaim tentang netralitas tetapi paling penting soal kapasitas.

“Kesimpulan saya, penyelenggara gagal mengemas debat itu dengan menarik dan apik sehingga tidak muncul hal-hal baru. Soal efek kepada pemilih, menurut saya nyaris tidak ada efek apa-apa. Tinggal media saja yang memoles isu itu untuk mengedukasi pemilih,” tutupnya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *