Seminar Nasional, STIT Hadirkan Ketua MK Anwar Usman

Kota Bima, Kahaba.- Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bima menggagas seminar nasional, Selasa (19/6) pagi dengan menghadirkan Ketua Mahkamah Konstutisi (MK) Republik Indonesia Anwar Usman sebagai narasumber.

Ketua MK RI foto bersama dengan para guru PGMI usai seminar. Foto istimewa. Foto: Ady

Kampus Islam tertua di Bima ini juga menghadirkan dua akademisi asal Bima dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Keduanya yakni Doktor Abdul Wahid dan Doktor Syukri.

Seminar mengangkat tiga topik dalam satu tema yaitu “Pengembangan Pendidikan Karakter dan Kesadaran Hukum Berkonstitusi dalam Bingkai NKRI serta Arah Pendidikan Islam Abad 21” yang dibahas tiga narasumber.

Ketua MK RI Anwar Usman dalam pemaparannya menjelaskan sesuai dengan Pasal 24 (c) UUD 1945 MK tidak berwenang mengadili orang atau badan seperti Mahkamah Agung (MA). Melainkan, tugas MK adalah mengadili sistem dan institusi negara. Cermin dari sistem kenegaraan, terwujud dalam bentuk undang-undang.

Sedangkan institusi negara menurut UUD 1945 disebut dengan lembaga negara. Maka dari itu, selain bertugas dan berwenang menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, MK juga bertugas menguji sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar.

Serta memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil Pemilu. Pada bidang pendidikan, MK juga turut berkonstribusi memberikan sumbangsih pemikiran dalam UU Sisdiknas, terutama dalam hal alokasi anggaran 20 persen untuk pendidikan.

Kemuian Narasumber Doktor Syukri pada presentasinya mengenalkan kepada peserta seminar yang didominasi Guru PGMI tentang teori Al Bayan sebagai metode pendidikan.

Menurutnya, teori Al Bayan bukanlah teori baru melainkan sudah lama ada dan sumber rujukannya dari Al Quran Surah Ar Rahman ayat 4 “Allamahul bayaan”. Ia juga telah menguraikan teori yang sudah dibuktikan tersebut dalam sebuah buku tulisannya.

“Teori ini sesungguhnya mengakomodir materi-materi pelajaran yang abstrak dengan menjelaskan secara kongkrit. Tapi kongkritnya itu harus didukung oleh alat peraga,”

Ia mencontohkan seperti materi tentang haji dan umrah, tidak bisa hanya dijelaskan dengan teori tanpa didukung dengan praktek dan alat peraga. Metode diyakininya tidak hanya efektif untuk siswa sekolah dasar, tetapi bisa digunakan siapa saja hingga tingkat perguruan tinggi.

“Saya harapkan di RPP nanti bapak ibu-guru wajib memunculkan alat peraga untuk materi. Kenapa alat peraga, untuk memberikan memori jangka panjang. Kalau membaca dan mendengar hanya 10 persen, cepat lupa,” paparnya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *