Aba Du Wahid: Alat Peraga Generasi Milenial Bukan Lagi Batu!

Kota Bima, Kahaba.- Perkembangan teknologi yang begitu cepat mengakibatkan lahirnya generasi era baru dengan karakter dan pola pikir baru sesuai zamannya. Mereka kemudian dikenal sebagai generasi milenial. Apabila karakter generasi ini tak dikenali dengan baik, penangannya pun bisa jadi tidak tepat sasaran.

Doktor Abdul Wahid saat mengisi seminar di STIT Sunan Giri Bima. Foto: Ady

Terkait karakter generasi milenial ini, Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram Doktor Abdul Wahid mengidentifikasi 10 ciri khas yang menonjol generasi abad 21 ini dibandingkan generasi-generasi terdahulu.

Pemaparan ini disampaikan Doktor lulusan Universitas Udayana Bali ini dalam Seminar Nasional tentang Pendidikan Islam Abad 21 dan Tantangannya yang digelar Kampus STIT Sunan Giri Bima, Selasa (19/6) pagi.

Diantaranya, generasi milenial identik dengan dunia yang dilipat. Kemudahan teknologi membuat generasi ini dapat mengakses semua informasi dengan cepat hanya dalam genggaman.

“Di mata generasi milenial, dunia begitu kecil. Sekarang alat peraga mereka bukan lagi batu atau kayu, tetapi gadget. Mereka akan tahu dengan sendiri berbagai informasi yang tidak kita tahu sebelumnya,” papar Akademisi dengan nama pena Aba Du Wahid ini.

Ciri berikutnya, generasi milenial telah mengalami revolusi berpikir dan komunikasi. Ciri ini nampak begitu kental dengan generasi milenial. Perkembangan pemikiran dan komunikasi generasi ini selalu berubah setiap waktu mengikuti zamannya.

Namun, generasi milenial bukan tanpa kelemahan. Justru menurut Direktur Alamtara Institut ini, generasi ini hidup secara simulacrum akibat kecanduan teknologi dan gadget.

“Dunia mereka seolah pura-pura. Bisa jadi terlihat sedang serius mendengarkan, tetapi sebenarnya disaat bersamaan mereka berkomunikasi kemana-mana lewat gadgetnya,” tuturnya.

Disisi lain, generasi milenial hidup dengan latar belakang multikultural. Mereka juga kelihatan gaul tapi ekslusif. Namun, berbasis Komunitas. Tidak bisa dipetakan secara sederhana mereka dari mana.

“Mereka menerobos batas-batas wilayah dengan multiple identity atau banyak identitas dan komunitas,” ujar dia.

Ciri lainnya, yakni save zone knowledge atau memiliki proteksi zona nyaman atas keilmuan yang mereka miliki. Self Defense Mechanism atau membangun mekanisme pertahanan diri. Serta erat dengan cultural attack atau serangan budaya lain.

Atas fenomena generasi milenial ini, Abdul Wahid merumuskan jawaban sementara bahwa pendidikan multikultural harus tetap ada bagi mereka, tetapi harus dengan cara organik. Seperti yang kini ia kembangkan melalui program Sekolah Kalikuma Terlibat (Skuter). Sekolah ini dilakukan di alam terbuka melibatkan generasi milenial.

“Bukan ala Gramcian yang bersifat hegemoni, tetapi ala Habermasian yang memperbayak ruang publik,” ujarnya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *