Bukhari: Kalau Saya Terima Suap, Tunjukan Buktinya, Ini Pembunuhan Karakter

Kota Bima, Kahaba.- Karena tidak terima tudingan terhadap dirinya yang diduga menerima suap dari pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bima tertentu, Ketua KPU Kota Bima meminta kepada massa aksi yang menggelar demonstrasi tadi pagi untuk menunjukan bukti. (Baca. KPU Kota Bima Didemo, Ini Tuntutan Massa Aksi)

Ketua KPU Kota Bima Bukhari. Foto: Bin

“Soal dugaan terima suap, harus ada pembuktiannya. Apakah ada saya berkomunikasi intens dengan paslon tertentu, dimana dan berapa. Ini membunuh karakter saya,” tegasnya, Senin (2/7).

Jika memang ada bukti yang dipegang oleh massa aksi soal tudingan tersebut. Dirinya menyarankan agar ia dilaporkan ke pihak yang berwajib. Agar dirinya bisa diproses sesuai ketentuan dan aturan. (Baca. Begini Jawaban KPU Soal Sorotan dan Tuntutan Massa Aksi)

Ia juga mengaku siap ditangkap dan diberhentikan dari Ketua KPU Kota Bima, apabila ada tindakan kejahatan yang dilakukannya. Tetapi itu semua harus dibuktikan dengan pembuktian yang jelas. Tidak lantas melempar isu dan berakibat pada pembunuhan karakternya.

“Insya Allah kami bekerja dengan integritas. Integritas ini tidak akan kami gadaikan,” katanya.

Bukhari juga menegaskan, yang sudah dilakukan KPU Kota Bima juga sudah sesuai aturan dan ketentuan. Bekerja berdasarkan wewenang dan fungsinya masing – masing.

Pihaknya juga percaya sepenuhnya dengan kinerja PPK, PPS dan KPPS. Maka, terhadap sesuatu yang dilakukan diluar ketentuan, KPU dengan segera meluruskan.

Soal sorotan transparansi yang disampaikan massa aksi juga sambung Bukhari, semua sudah dibuka seluas-luasnya. Semua tahapan juga dipublikasikan dan diminta tanggapan kepada publik. Termasuk semua yang terjadi di tingkat TPS dan PPK juga tidak ada yang disembunyikan.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *