Reses di Lewi, Dewan Ditagih Soal Nasib Rumah Hanyut Akibat Banjir

Kota Bima, Kahaba.- 4 orang anggota DPRD Kota Bima Dapil Asakota, masing – masing M Nor, Hj Anggriani, Jaidin dan H Sidra menggelar reses Lingkungan Lewi Kelurahan Jatibaru, Jumat malam (13/7). Kegiatan tersebut dihadiri ratusan masyarakat setempat.

Reses Dewan di Lingkungan Lewi Kelurahan Jatibaru. Foto: Bin

Kesempatan pertemuan tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh warga setempat untuk mengampaikan aspirasi. Warga begitu semangat menguraikan satu persatu persoalan dan kebutuhan yang sekiranya dapat diperjuangkan dengan cepat.

Salah satu aspirasi yang membuat warga begitu semangat, ketika warga menanyakan kejelasan nasib rumah hanyut karena banjir 2016 lalu. Sebab, hingga saat ini tidak ada realisasinya. Padahal pemerintah sudah pernah berjanji untuk mengganti rumah warga yang hanyut dibawa banjir.

“Rumah hanyut banjir sampai hari ini belum ada kejelasannya. Tolong diperhatikan pak dewan,” pinta Ketua RW 3 Tasrif.

Diakui Tasrif, akibat banjir itu, jumlah rumah hanyut di Lingkungan Lewi sebanyak 3 unit. Sementara jumlah keseluruhan rumah hanyut di Kelurahan Jatibaru sebanyak 18 unit.

“Kasihan warga yang rumahnya hanyut pak dewan. Nasib mereka menunggu janji pemerintah, belum kunjung tiba,” katanya.

Warga lain, Bambang saat menyampaikan aspirasi meminta agar pemerintah melalui legislatif memperhatikan lampu jalan di Kelurahan Jatibaru. Jangan hanya di kelurahan lain yang diperhatikan, sementara di Jatibaru gelap gulita.

“Jangan diskriminasi soal penerangan jalan. Kami warga Jatibaru ini punya hak untuk mendapatkan perhatian yang sama seperti warga kelurahan lain yang jalannya sudah terang benderang,” sorotnya.

Pada kesempatan reses itu mengemuka sejumlah aspirasi lain. Seperti drainase, talud, buka gang baru, bedah rumah yang diminta untuk jangan dilanjutkan. Karena banyak rumah di Jatibaru yang tidak layak huni.

Menjawab sejumlah aspirasi itu, M Nor menjelaskan soal penanganan pasca banjir. Saat ini pemerintah sedang upayakan pembebasan lahan untuk dibangun pemukiman yang terdampak banjir.

“Nanti ada relokasi, saat ini sedang disosialisasikan di sejumlah kelurahan,” jelasnya.

Selain untuk rumah hanyut, relokasi tersebut juga untuk warga yang masih tinggal di sempadan sungai. Karena ketentuannya, jarak sungai dengan pemukiman warga harus 10 meter. Jadi yang berada di sekitar bantaran sungai, harus direlokasi.

Menjawab aspirasi lain. M Nor juga mengaku, aspirasi yang bersifat prioritas akan diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Melalui wadah pokok-pokok pikiran dewan, aspirasi tersebut akan dituangkan dalam rencana dan program pemerintah.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *