Tulisan Pemuda Asal Bima Ini Masuk 35 Besar IIF 2018

Kota Bima, Kahaba.- International Indonesia Forum (IIF) merupakan forum internasional yang mempertemukan para akademisi dan peneliti dari berbagai lintas keilmuan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan alternatif dan solusi dalam memecahkan permasalahan sosial yang ada di Indonesia.

Didid Haryadi (Berdiri Bawah, 4 dari kiri) bersama peserta di kegiatan IIF 2018. Foto: Istimewa

Tahun 2018 adalah gelaran ke IIF yang ke-11 dengan tema ‘Stakeholders in Indonesian Growth: Sharing the Natural and Social Environment in Indonesia’ dan dilaksanakan pada tanggal 16 Juli di UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana) di Salatiga, Jawa Tengah.

Sebanyak 35 peserta dinyatakan lolos dan berhak mempresentasikan hasil penelitiannya dalam bentuk panel diskusi.

Salah satu peserta yang lolos adalah Didid Haryadi. Pemuda asal Kota Bima yang baru saja menyelesaikan program Master (S2) dalam bidang Sosiologi di Istanbul University Turkey ini merasa senang. Sebab tulisannya bisa masuk 35 besar, setelah melalui proses seleksi kurang lebih 100 paper yang masuk ke panitia.

“Riset saya tentang analisis perbandingan partisipasi organisasi masyarakat sipil di Turki dengan Indonesia. Fokusnya adalah pemenuhan kebutuhan hak-hak dasar manusia. Seperti kebutuhan untuk akses pendidikan dan kesehatan,” ujar pemuda asal Kelurahan Pane Kota Bima itu, saat dihubungi Kahaba.net via seluler Selasa (17/7).

Didid Haryadi

Kata dia, tahun ini peserta yang hadir dalam IIF 2018 cukup beragam. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Misalnya ada akademisi dari Norwegia, Australia, Taiwan, dan London. Meskipun demikian, beberapa akademisi dari perguruan tinggi dalam negeri juga berpartisipasi dalam forum ini, misalnya dari Universitas Padjajaran, Universitas Gajah Mada, dan Universitas Indonesia.

“Acara penutup dilaksanakan melalui kuliah tamu dari Prof Dr Hans Pols (University of Sydney), Prof Dr Frank Dhont (National Cheng Kung University), dan Prof Dr Siti Kusujarti (Warren Wilson College). Topiknya sangat menarik, terutama tentang penelusuran sejarah dan hubungannya dengan kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Salah satunya ‘Breaking the Colonial Hypnosis: Medicine and Decolonisation in the Dutch East Indies,” paparnya.

Ia menambahkan, IIF adalah acara konferensi internasional tahunan yang terbuka bagi para akademisi, peneliti dan mahasiswa S3 yang dikemas dalam bahasa Inggris, baik untuk tulisannya maupun presentasinya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *