Poltekes Bima, Mewisuda Mahasiswa Tanpa Praktek

Kota Bima, Kahaba.- Perguruan Tinggi Negeri, Politeknik Kesehatan (Poltekes) Mataram Program Studi Keperawatan Bima menahan ijazah salah satu mahasiswa yang telah diwisuda. Penahanan ijazah ini dilakukan terhadap M. Rayyan, A.Md.Kep (25), yang telah diwisuda 15 September 2012 yang lalu.

Kampus Politeknik Kesehatan Mataram, Program Studi Keperawatan Bima. Foto: Arief

Hal ini terkuak berdasarkan pengakuan Rayyan kepada sejumlah media, Senin, 15 Oktober 2012 di halaman kantor Pemerintah Kota Bima. Ia mengaku, dirinya telah diwisuda tanggal 15 September 2012 lalu. Namun, lanjut Rayyan, ketika dirinya ingin mengambil ijazah di kampus, pihak manajemen menolak menyerahkan ijazah miliknya. “Saya kan telah diwisuda, jadi wajar saya mengambil ijazah milik Saya. Kenapa harus ditahan?,” ungkapnya.

Ia menerangkan, seandainya alasan ditahan ijazah miliknya oleh pihak kampus karena belum mengikuti praktek, itu tidak benar. “Bagaimana saya bisa di wisuda, kalau saya belum mengikuti program praktek,” tandasnya.

Pihak kampus, yang dikonfirmasi sejumlah media, melalui Sekretaris  Program Studi D-IV Keperawatan, Abdul Haris, menjelaskan tentang ditahannya ijazah milik Rayyan tersebut. Haris menerangkan bahwa pihak manajemen bukannya tidak mau memberikan ijazah milik Rayyan, namun yang bersangkutan belum mengikuti syarat wisuda yaitu program praktek.

“Kita tahan ijazah milik mahasiswa itu, karena yang bersangkutan belum mengikuti program praktek sebagai mata kuliah wajib di kampus Poltekes,” kata Haris kepada Kahaba di kantornya.

Ia melanjutkan, bahwa sebenarnya persoalan ijazah tersebut adalah ‘titipan’ Kepala Prodi D-IV Keperawatan Poltekes Mataram Kampus Bima, H. Salim AR. “Mahasiswa tersebut bisa diwisuda karena ada pembicaraan antara keluarganya dengan Kaprodi D-IV, dengan syarat akan mengikuti praktek setelah diwisuda,” imbuhnya.

Ketika ditanya pelanggaran aturan pendidiakn, dengan mewisuda mahasiswa yang belum praktek? Haris mengakui hal tersebut. Dirinya tak membantah atas pelanggaran yang terjadi. “Ini soal kemanusian,” ujar Haris singkat.

Sementara itu, Pengelola Poltekes Mataram Kampus Bima, H. Jubaer, S.KM, M. Kes yang dihubungi Kahaba via ponselnya menjelaskan, bahwa kasus Rayyan bukan domain dirinya. “Silahkan konfirmasi ke Kepala Program Studi D-IV, H. Salim AR,” kata Jubaer dalam SMS singkatnya. [BS/BM]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. msh ada nilai yg belum tuntas, tp Koq bisa bisa diwisuda??? :-/
    setiap akhir semester mhsswa wajib mengikuti praktek klinik lapangan (PBK).. Ada PBK I,II Dan III. bila mhsswa bersngkutan tdk lulus PBK I, tdk akan diperkenankan mengikuti PBK II dan seterusnya.,, dan setau sy apabila ada mata kuliah yg belum tuntas. mhssw yg bersngkutan tdk diperkenankan mengikuti ujian meja….krn PBK jg tu persyratan ambil Surat Izin Perawat (SIP) utk perwat Surat Izin Bidan (SIB) utk bidan dan Surat Tanda Registrasi (STR) pd pendidikan D3 keperawatan ataupun D3 kebidanan.

  2. Agung Purnomo

    Saya pernah mengadukan tentang adanya “penahanan ijazah” dan “ijazah ganda”. Permasalahan dimulaui dari penahanan ijazah S2 saya yang pertama tertanggal 18 September 2013 oleh sebuah PTN, selanjutnya setelah hampir satu tahun ijazah tersebut bukannya diberikan kepada saya tetapi saya disuruh ikut wisuda lagi serta diberikan ijazah baru/ganda tertanggal 23 Juli 2014 setelah diminta sejumlah uang (7 Juta). Hal ini pernah saya laporkan ke PIH dan Irjen Kemendikbud tapi sampai sekarang tidak pernah ada keputusan dan tindaklanjut apapun. (bukti SK Yudisium dari Dekan dan SK asli sebagai Alumni Wisudawan pada kelulusan pertama dari Rektor masih saya simpan sebagai bukti). Saya adalah PNS di Dinas Pendidikan Kab. Kulon Progo DIY. Saya siap dipanggil jika Kemenristek atau lembaga manapun yang berwenang memanggil saya apabila dengan sungguh-sungguh akan menindaklanjuti aduan saya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *