Ngopi Bareng Netizen di Bima, Fahri Hamzah Kritik dan Nilai Jokowi Gagal

Kota Bima, Kahaba.- Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menggelar acara Ngopi Bareng di Falcao Cafe, Selasa malam (24/7). Kegiatan rutin putra asli Sumbawa itu yang ke-25 kali nya digelar dan ramai dihadiri netizen Bima.

Fahri Hamzah saat ngopi bareng dengan Netizen Bima. Foto: Bin

Menurut Fahri, dalam sejarahnya tempat ngopi merupakan tempat berkumpul orang-orang berfikir. Di situ ada 2 teman berfikir yakni rokok dan kopi. Dari hasil acara yang sudah digelar diberbagai pelosok nusantara itu, dirinya banyak mendengar langsung aspirasi masyarakat.

“Kenapa saya mau bikin ngopi bareng, karena saya ingin mendengar langsung dari lapangan. Di Sulawesi, Sumatra, pulau Jawa, dan sejumlah pulau yang lain saya mendengar lewat warung kopi dan di cafe – cafe. Dan saya temukan, yang pertama, orang tidak puas dengan pemerintahan saat ini,” ungkapnya.

Kata Fahri, semua omong kosong pemerintah saat ini tidak terbaca di tingkat bawah. Mentri – mentri ini hanya bisa berakrobat, untuk melakukan pencitraan termasuk presidennya. Setiap hari mengatur – ngatur diri supaya dipotret dan diberitakan baik. Tapi faktanya, kehancuran terjadi di tingkat bawah.

“Orang miskin makin bertambah parah, kerawanan kemiskinan pun semakin bertambah. Tapi, justru pemerintah menilai angka kemiskinan berkurang dibawah 2 digit. Kenapa itu terjadi, karena pemerintah saat ini menghitungnya dengan cara menyederhanakan persoalan,” kritik Fahri.

Pada kesempatan tersebut duta PKS itu tak henti – hentinya mengeritik pemerintahan Joko Widodo. Bahkan setiap kali Fahri berhenti berbicara, kalimat tahun 2019 ganti presiden terus diteriakan warga yang menghadiri kegiatan dimaksud.

Ia mengungkapkan persoalan pertumbuhan ekonomi yang mendera Bangsa Indonesia. Jika dibandingkan dengan sejumlah negara tetangga lain, Indonesia tertinggal jauh. Dari angka pertumbuhan ekonomi yang melambat tersebut, ongkos pertumbuhannya dipenuhi dengan utang.

“Utang BUMN sekarang saja sudah diatas Rp 5 ribu triliun, lebih besar daripada hutang negara dan ini merupakan yang terbesar dalam sejarah,” katanya.

Rezim pencitraan pemerintah saat ini menurut Fahri harus dikritik. Dirinya sebagai wakil rakyat di Dapil Provinsi NTB, merasa konstituennya meminta agar dirinya harus mengeritik dan berbicara keras tentang kenyataan ini. Dirinya pun tidak peduli dan tidak mau ambil pusing dengan perkataan orang diluar NTB, karena yang memilihnya bukan orang – orang tersebut.

“Saya di NTB punya suara terbanyak. Bahkan di partai, saya yang memiiki suara pribadi paling besar. Artinya apa, rakyat percaya. Saya tidak peduli dengan perkataan orang dengan setiap kritik yang saya sampaikan. Karena orang NTB senang memilih saya,” tegasnya.

Untuk itulah sambung anggota DPR RI 3 periode itu, kegiatan semacam ini perlu diselenggarakan. Bertemu dan bertukar pikiran untuk membaca ada apa di Negara Indonesia ini. Yang kritiknya terus hidup, agar negara bisa tumbuh dan berkembang menjadi negara maju dan kuat.

“Makanya, kritik harus terus disampaikan. Apapun kesalahan tersebut harus disampaikan dan saya akan berbicara. Saya akan mengeritik Pak Jokowi sampai hari ini, dan saya tidak akan berpindah hati. Karena Jokowi itu gagal,” terangnya.

Fahri menambahkan, kegagalan pertama Presiden Jokowi adalah kegagalan memahami bahwa dirinya adalah Presiden Indonesia, bukan walikota. Dan itu kegagalan yang paling fatal.

“Jokowi tidak mengerti skala pekerjaan sebagai presiden,” tambahnya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *