Kepala dan Bendahara SDN 29 Tegaskan Tak Pemotongan Insentif Tenaga Honor

Kota Bima, Kahaba.- Pemotongan insentif pegawai honorer lingkup SDN 29 Kota Bima dibantah lagi oleh pihak sekolah setempat. Apa yang telah disampaikan oleh kepala sekolah waktu klarifikasi di media ini sebelumnya, dinilai masih kurang dari sisi teknis. (Baca. Insentif Disunat Kepala SDN 29, Pegawai Honor Ngeluh)

SDN 29 Kota Bima. Foto: Eric

Kepala Sekolah SDN 29 Kota Bima yang didampingi bendahara dana BOS Efriani serta Kepala TU Irfan menegaskan tidak ada pemotongan insentif tenaga honorer. Justeru yang ada sekolah itu memberikan insentif sesuai dengan juknis dana BOS, yaitu 15 persen dari jumlah dana yang diterima setiap 1 kali dalam 3 bulan. (Baca. Potong Insentif Pegawai Honor, Kepala SDN 29 Akan Dipanggil Dikbud)

“Dana BOS yang kami terima bulan ini Rp 108 juta, kemudian 15 persen dipergunakan untuk pembayaran insentif tenaga honorer yang berjumlah 39 orang,” ungkapnya, Kamis (13/9).

Berdasarkan juknis dana BOS kata dia, 15 persen dari Rp 108 juta adalah Rp 16,2 juta. Jumlah itu sepenuhnya dipergunakan untuk membayarkan insentif pegawai honorer. Diantaranya pegawai TU, guru honorer, cleaning service, operator sekolah,

Kemudian Efriani menjelaskan, kenapa pembayaran insentif mengalami penurunan dari pencairan dana BOS sebelumnya. Itu disebabkan jumlah dana BOS pada triwulan sebelumnya ada peningkatan. Sehingga dana BOS yang diterima itu lebih dan otomatis berpengaruh pada pembayaran insentif pegawai.

“Besar dan kecilnya dana BOS yang diterima, berdasarkan jumlah keseluruhan siswa. Artinya penurunan dana BOS disebabkan jumlah siswa yang menurun. Sehingga pembayaran insentif di bulan ini terjadi penurunan,” urainya.

Bahkan sebagai bentuk dukungan atas kerja pegawai honor, pihaknya kadang membayar lebih insentif para pegawai. Sebagai motivasi untuk terus meningkatkan kinerja. Sehingga para pegawai tidak malas bekerja.

“Bayangkan saja pegawai honorer di sekolah kami jumlahnya 39 orang, sehingga kami harus bekerja ekstra memikirkan nasib semua pegawai,” tandasnya.

Efriani justeru merasa aneh, selama bekerja sebagai bendahara sekolah, baru kali ini ada protes dari pegawai setempat. Padahal sebelum menerima insentif, terlebih dahulu para pegawai melihat daftar jumlah penerimaan uang, kemudian baru ditandatangani oleh pegawai yang bersangkutan tanpa perwakilan.

“Letak pemotongannya dimana?, jika yang kami bayarkan sesuai dengan juknis dana BOS dan jumlah uang yang tertera dalam slip insentif, sesuai yang diterima pegawai honorer dan telah ditandatangani oleh masing-masing pegawai honorer,” katanya.

Dia menambahkan, apa yang disampaikan oleh kepala sekolah sebelumnya juga hanya bersifat umum. Sehingga informasi yang diterima oleh masyarakat membenarkan adanya pemotongan itu. Padahal pihaknya telah bekerja sesuai dengan juklak dan juknis dana BOS.

*Kahaba-04

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *