Andini Divonis Idap Tumor, Begini Kondisinya Saat Ini

Kota Bima, Kahaba.- Sebulan ditangani secara medis, kondisi kesembuhan untuk Andini (9) belum menunjukan perkembangan yang berarti. Bocah asal Dusun Ujung Kalate Desa Nipa Kecamatan Ambalawi yang saat ini dirawat Rumah Sakit Sanglah Denpasar ini terus merasakan sakit di tulang belakang. (Baca. Andini, Putri Nelayan Terbaring Sakit Yang Luput Dari Perhatian)

Kondisi Andini saat ini di RS Sanglah Denpasar Bali. Foto: Ist

Orang tua Andini, Rini mengungkapkan, saat ini kondisi putri pertama mereka masih merasakan sakit dan sulit bergerak. Untuk aktifitas ke kamar kecil saja harus terus digendong. (Baca. Kepala PKM Ambalawi dan Kades Nipa Jenguk Andini, Rabu Dirujuk)

Ia mengaku, hasil pemeriksaan dokter di Rumah Sakit Sanglah Denpasar. Andini menderita tumor, sehingga harus dioperasi untuk mengangkat penyakit tersebut. (Baca. ACT MRI Dampingi Andini yang Dirujuk ke Mataram)

“Keputusan dokter harus operasi untuk mengangkat tumornya, tapi karena kondisi Andini masih lemah jadi ditunda,” katanya, Minggu (6/10).

Keputusan ditunda untuk operasi kata Rini, karena kesehatan Andini sangat lemah. Saat ini pihak rumah sakit hanya memberikan susu sebagai penambah energi dan berat badan.

Dirinya berharap semoga susu suplemen yang dikonsumsi dapat memberikan pengaruh pada kondisi kesehatan Andini. Sehingga bisa sehat dan badannya kembali fit dan segera dioperasi.

Sementara itu Ayah Andini, Ramli menambahkan, guna memenuhi kebutuhan sehari-hari baik makan maupun minum. Dirinya beserta isteri dibantu Aksi Cepat Tanggap (ACT) MRI Denpasar.

“Terimakasih ACT MRI atas bantuan dan pendampingan yang  diberikan, karena tidak bisa dipungkiri dengan kondisi ekonomi saat ini sangat membutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak,” tambahnya.

*Kahaba-04  

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *