Bangun Menara Telekomunikasi Tidak Boleh Sembarang, Pemkab Bima Akan Buatkan Perbup

Kabupaten Bima, Kahaba.- Salah satu perangkat terpenting dalam teknologi komunikasi dan informasi adalah menara yang berfungsi sebagai pemancar atau penerima sinyal gelombang informasi dan komunikasi. Namun demikian, dalam kegiatan pembangunannya perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain dalam pemanfaatan tata ruang di Kabupaten Bima.

Rakor Bupati Bima dengan para provider. Foto: Ist

Untuk mengantisipasi dampak negatif yang ditimbulkan pasca pembangunan tower ini, Bupati Bima Hj Indah Dhamayanti Putri memimpin rapat koordinasi (Rakor) dengan para penyedia (Provider) menara seluler yang beroperasi di wilayah Kabupaten Bima, memberikan sejumlah catatan.

Pada rakor di ruang Bupati Bima Rabu kemarin, Bupati mengatakan, penetapan titik koordinat untuk pembangunan menara telekomunikasi selama ini terkesan hanya dilakukan secara sepihak oleh pihak perusahaan, tanpa melibatkan instansi teknis di daerah. Sehingga berdampak pada saat pengawasan oleh pemerintah daerah.

“Ke depan pemerintah daerah akan menerbitkan payung hukum berupa Peraturan Bupati tentang cell plan yang memuat lokasi menara yang ada dan rencana penyebaran lokasi pembangunan infrastruktur baru,” jelas Bupati.

Pada kesempatan tersebut, Kapolres Kabupaten Bima AKBP Bagus S Wibowo yang mendampingi Bupati Bima juga menekankan agar para provider memahami kondisi masyarakat.

“Dari permasalahan yang terjadi sebelumnya, cukup menjadi contoh untuk diperbaiki. Tipikal masyarakat Bima yang dinamis perlu dipahami oleh para provider. Oleh karena itu, komunikasi dan koordinasi penting sekali.” Tegas Kapolres.

Bagus juga mengajak semua pihak untuk berpikir tanggungjawab. Tidak perlu saling menyalahkan, semua pihak saling proaktif memberikan informasi.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *