15 Mata Air di Kolo Kering, Warga Kolo Curhat ke Dewan Saat Reses

Kota Bima, Kahaba.- Musim kemarau panjang ini juga berdampak bagi warga Kelurahan Kolo. Bagaimana tidak, dari 18 sumber mata air yang ada di wilayah setempat, tersisa 15 sumber mata air yang bisa digunakan warga. Sementara air sumur di pemukiman kian hari berkurang.

Reses Anggota DPRD Kota Bima Dapil Asakota di Kelurahan Kolo. Foto: Bin

Tokoh masyarakat Kelurahan Kolo M Amin mengungkapkan, sejak beberapa bulan lalu warga Kolo sudah mulai kesulitan mendapatkan ari bersih. Jangankan untuk minum, untuk mencukupi kebutuhan dapur dan mandi saja sudah mulai kesusahan.

Kata Amin, di Kolo ada sekitar 18 sumber mata air. Seperti mata air So Oi Fanda, Mada Oi Seli, Mada Oi Mata, Mada Oi Mbora, Mada Oi Panaroka, Mada Oi Lombe, Mada Oi Langawu. Namun, sebagian besar sudah tidak mengeluarkan air.

“Yang masih ada airnya meski debit kurang itu di Mada Oi Seli, Mada Oi Mata, Mada Oi Lombe,” sebutnya di hadapan 5 orang Anggota DPRD Kota Bima Dapil Kecamatan Asakota yang menggelar reses, Minggu (14/10).

Untuk warga yang masih menggantungkan kebutuhan air bersih di sumur, juga sudah mulai kesulitan. Pasalnya air semakin berkurang.

“Tahun ini yang parah, kami benar – benar kesulitan air,” ungkapnya.

Kata dia, antisipasi yang dilakukan warga sekarang yakni menanam di sekitar mata air. Meski begitu, dirinya berharap kepada pemerintah memperhatikan kondisi warga Kolo tersebut.

“Pada sumber mata air yang saya sebutkan tadi pak dewan, kalau bisa juga dilakukan pemagaran dan perbaikan pipa dari sumber mata air yang sudah banyak rusak,” inginnya.

Warga lain, Arbiah juga memanfaatkan kesempatan reses tersebut untuk menagih kembali janji anggota dewan yang ingin memperjuangkan sarana posyandu di Kolo.

“Kenapa tidak pernah direalisasikan pak, padahal sudah sering kami minta. Sarana kesehatan juga sangat penting untuk warga Kolo,” ucapnya.

Kemudian Firmansyah menyarankan kepada wakil wakyat untuk merubah cara pembagian bantuan untuk nelayan di Kolo. Sebab, dari dulu bantuan melalui ketua kelompok tidak tepat sasaran.

“Banyak anggota kelompok yang nelayan asli, malah tidak dapat bantuan. Cara ini kalau bisa dirubah. Berikan saja kepada masing – masing anggota kelompk,” sarannya.

Menjawab aspirasi warga tersebut, anggota DPRD Kota Bima M Nor mengakui air merupakan kebutuhan yang sangat vital. Kekeringan dan kesulitan air bersih tidak hanya dirasakan oleh warga Kolo, tapi hampir disemua kelurahan.

Untuk itu, pihaknya akan berupaya menyampaikan kepada dinas terkait untuk memperhatikan kondisi warga Kolo yang kekurangan air bersih. Selain itu, juga akan diperjuangkan agar bisa dilakukan pergantian pipa dan pemagaran sekitar lokasi sumber mata air.

“Perlu juga kami sampaikan, bahwa dalam waktu dekat ada pengobaran dalam, yang tersebar di 33 titik. Kecamatan Asakota dapat 3 titik, termasuk di Kelurahan Kolo,” tuturnya.

Soal aspirasi yang disampaikan Rabiah, Nor mengaku pihaknya terus memperjuangkannya. Hanya saja, semua aspirasi warga sejak dulu ada yang bisa direalasiasikan dan tidak. Kendati demikian, dewan di Dapil Asakota tetap memperjuangkannya.

“Mengenai bantuan untuk nelayanan, prosedurnya memang harus melalui kelompok. Mestinya, saat penyerahan bantuan harus dikontrol juga oleh masyarakat. Masalah ini juga akan kami kemukakan ke dinas terkait, biar bisa diperhatikan serius,” tambahnya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *