Darah Berbalas Darah, Potret Perang di Kecamatan Woha

Kabupaten Bima, Kahaba,-  Dendam antara Desa Samili dan Dusun Godo, Desa Dadibou, Kecamatan Woha seolah tak berkesudahan. Kubu Desa Samili yang bergabung dengan Desa Kalampa masih saja membangun perseteruan dan mengadu kekuatan dengan Desa Dadibou. Sudah dua hari ini mereka saling membunuh antar satu dan yang lainnya.

Konflik berdarah itu, berawal dengan terbunuhnya, Burhan, warga Desa Samili yang tinggal di Godo, yang diduga dukun santet oleh oknum masyarakat Godo Desa Dadibou, Senin, 1 Oktober 2012 yang lalu, terbalas dengan aksi pembakaran Dusun Godo oleh ribuan warga Samili dan Kelampa, di tanggal 2 Oktober 2012 silam.

Ismail (46,) warga Desa Dadibou yang terkena luka tembak di bagian perutnya. Foto: Arief

Tak terhenti di situ, pemicu bentrokan antar pelajar dan pemuda di depan SMA Negeri 2 Woha, Rabu, 17 Oktober 2012 siang kemarin, berimbas pecahnya perang antara dua kubu itu. Satu orang meninggal dunia asal Desa Samili (Sukarman) dan 11 orang terluka akibat panah yang bersarang ditubuh dari kedua kubu tersebut.

Darah seakan tak bernilai bagi mereka. Membunuh demi harga diri desa dan komunitasnya seolah menjadi budaya baru di Kecamatan yang akan menjadi Ibukota Kabupaten Bima tersebut. Prinsip darah harus di bayar dengan darah. Cerminan itu yang kemudian, Kamis, 18 Oktober 2012 sore tadi, perang kembali terjadi di batas Desa yang bertikai itu.

Parang, panah, belati, clurit bahkan senjata api rakitan dibawa kedua kubu ke arena perang yang berlokasi di persawahan sebelah barat SMA Negeri 2 Woha.

Kahaba yang langsung memantau di lokasi kejadian mencoba masuk di kedua kubu yang bertikai. Tentu saja keadaan begitu menyeramkan, semua akses jalan terutama di Samili dan Kelampa di blokade warga. Setiap warga masuk di sweeping oleh sebahagian warga yang berjaga-jaga di pintu masuk desa tersebut.

Sebelumnya, Kamis siang tadi, saat pemakaman Almarhum Sukarman sekitar pukul 11.30 WITA. Ada himbauan dari Kepala Desa Samili, Hatta, untuk tidak melakukan aksi balasan. Namun, himbauan Sang Kades itu bagai angin lalu. Dendam begitu membara di tubuh warga Samili apalagi telah menghilangkan nyawa saudara kampungnya.

Kamis sore tadi, sekitar pukul 15.40 WITA, bunyi tembakan kembali menderang di arena peperangan. Senapan dan anak panah datang dari kedua kubu yang diwarnai dengan tembakan aparat kepolisian yang mencoba melerai peperangan itu.

Satu korban tertembak dari kubu Desa Dadibou. Ismail (46) terkena luka tembakan di bagian perutnya. Ia sempat dirawat lanjut di Rumah Sakit Umum Kabupaten Bima di Kecamatan Bolo. Satu korban lagi, jatuh dari kubu Desa Dadibou juga. Korban diduga bernama Firman (27) yang terkena panah dipelipis kepalanya. Belum ada informasi jatuhnya korban dari Samili dan Kalampa atas kejadian sore tadi.

Perang bagai candu bagi mereka yang bertikai. Nafsu membunuh antara sesama etnis Woha seakan menjadi ‘mainan’ buat mereka. Hingga maghrib menjelang ribuan massa Samili dan Kalampa, sekitar seratus meter lagi hampir mengepung pemukiman warga Desa Dadibou. Namun, kuatnya pertahanan warga Dadibou, mampu memukul mundur warga Samili dan Kelampa. Ribuan orang itu diduga kuat hendak membakar pemukiman Desa Dadibou. Kobaran api terlihat membakar setiap pondokan milik warga Dadibou di pertengahan sawah tempat mereka berperang itu.

Adzan menggema. Bunyi teriakan dan senapan seakan terhenti seketika. Massa kedua kubu kembali ke rumahnya. Malam ini, situasi di antara kubu yang bertikai masih bersiaga. Tampak pemblokadean akses masuk ke masing-masing desa tetap dilakukan warga. [BM]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. usman abubakar

    ya allah hapuskanlah hawa nafsu setan dan iblis yg ada dalam tubuh masing2 warga di dua desa di bima yaitu desa kalampa dan desa dadibou sehingga perang antara kampung bi cepat selesai amin………………….

  2. adin

    Saya sebagai dou mbojo ikut prihatin sekalian malu. Di tengah2 masyarakat mbojo yang mayoritas beraga muslim masih ada perlakuan bar-bar yang mereka terapkan, dan akibat dari perlakuan perang seperti ini dana mbojo di anggap oleh daerah lain suku yang masih primitif. Apa kita sebagai dou mbojo tidak malu di anggap sebagai masyarakat yang primitif????

  3. amala_ayra

    Inilah potret indonesia sesungguhnya. Revormasi sesungguhnya tidak boleh menghilangkan nilai2 luhur bangsa. Pancasila yg dijadikan jati diri selama ini kini tinggal slogan bahkan indikasi menghilangkanya sudah sangat nyata terlihat. Mesti disadari sesungguhnya nilai2 luhur pancasila adlah nilai2 universal yg yg sampai kapanpun tidak akan pernah ketinggalan jaman…

  4. ainyQueen Xirwan

    Ya Allah… Q b’do’a kpadaMu,,, the bad day will be past especially for all of the people of Kec. Woha,, tp klo blum slesai mslhx mga aj g kena org d desa risa… q krimkan do’a jauh d perantauan buat sodaraQ d Bima. Ainy d Mamuju (SUL-BAR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *