Ungkap Pembakaran STKIP, Polisi Tambah Enam Saksi

Kota Bima, Kahaba.- Tiga pekan pasca pembakaran gedung perkuliahan STKIP Bima, Enin (8/10/2012) lalu, polisi belum mampu mengungkap siapa dalang dan pelaku kejadian tersebut. Polisi masih terus melakukan penyelidikan, dan enam orang saksi tambahan telah diperiksa.

Kebakaran di STKIP Bima, Senin (8/10/2012) lalu. Foto: Arief

Sementara itu,   hasil rekaman video CCTV belum dapat mengungkap secara detail untuk mengidentifikasi para pelaku yang merugikan kampus STKIP Bima sebesar Rp 1,5 miliar tersebut.

Kapolres Bima Kota, AKBP Kumbul KS, SH, S.IK  ketika diwawancarai Kahaba usai menghadiri rapat koordinasi Kamtibnas di aula kantor Walikota Bima, Selasa (23/10/2012) kemarin, mengungkapkan, pihaknya sampai saat ini belum menetapkan tersangka terhadap kejadian tersebut. Untuk memperdalam penyelidikan, Polres Bima Kota telah memeriksa enam orang saksi tambahan sehingga total saksi yang telah diperiksa sebanyak 16 orang.

Terkait hasil rekaman CCTV yang terpasang di beberapa titik dekat TKP, Kumbul mengaku pihaknya telah mempelajari video tersebut.

Kumbul juga secara tegas membantah rumor orang-orang bercadar yang terlihat sesaat sebelum STKIP terbakar. Dirinya mengakui, dalam video CCTV beberapa orang terekam kamera tanpa mengenakan cadar. Namun siapa saja oknum tersebut enggan dijelaskan lebih jauh olehnya.

“Tidak memakai cadar tetapi saya tidak bisa jelaskan,” ujarnya. Begitupun ketika ditanyakan mengenai hasil uji laboratorium forensik Polda Bali terhadap kejadian pembakaran, Kumbul memilih bungkam dan menghidar.

Seperti pemberitaan sejumlah media sebelumnya dari sejumlah warga yang mengaku sebelum kejadian pembakaran sempat melihat aktifitas sejumlah orang yang memakai cadar dan saat kejadian pembakaran melihat beberapa motor melaju ke arah barat dengan sangat cepat. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *