Indonesia Merdeka, Kabanta Masih Jadi Anak Tiri

Kota Bima, Kahaba.- Desakan masyarakat agar Pemerintah Kota Bima mempercepat pembangunan wilayah Kabanta semakin menguat. Senin (3/12/2012), puluhan mahasiswa dan warga kembali berunjuk rasa di depan kantor Walikota Bima dengan membawa tuntutan supaya infrastruktur dasar di Lingkungan Kabanta Kelurahan Nungga diperhatikan.

Unjukrasa warga dan mahasiswa untuk percepatan pembangunan wilayah kabanta, Senin 3 Desember 2012. Foto: Arief

Pengunjuk rasa melalui juru bicaranya, Salahudin mengatakan, kedatangan mereka untuk kesekian kalinya itu masih membawa harapan yang sama. Warga dikatakannya telah lama hidup dalam penjara minimnya fasilitas dan sentuhan pembangunan ditengah bangsa yang notabene merdeka. “Kami ingin Kabanta dipercepat proses pembangunannya agar tidak tertinggal dibandingkan kelurahan dan lingkungan lain di Kota Bima,” tegasnya melalui pengeras suara yang mereka bawa.

Koordinator Lapangan aksi ini juga berharap, akses transportasi darat yang menghubungkan wilayah di pegunungan ini dapat diperbaiki. Rusaknya jalan mengakibatkan warga kesulitan dalam mengangkut hasil pertanian dan mengantar jemput para pelajar yang bersekolah di luar Kabanta. “Lebih parah lagi jika musim penghujan, akses masyarakat terisolir dari pusat kota, bahkan beberapa kali mobil terguling akibat jalan yang rusak,” ujar salahudin.

Selain itu, pengunjukrasa mendesak Pemerintah Kota Bima memperhatikan kebutuhan masyarakat Kabanta terhadap jaringan tenaga listrik. Selama ini warga hidup dalam kegelapan, kontras dengan pemandangan ke arah Kota Bima yang benderang dikala malam datang. Pada tahun 2011 Pemkot pernah menjanjikan 100 unit listrik tenaga surya untuk penerangan warga. Namun hingga akhir tahun ini yang terealisasi hanya satu unit dan kini dipakai di masjid setempat.

Hingga berita ini ditulis, tak tampak satu pun pejabat Kota Bima yang menemui mereka. Dibawah pengawalan polisi, warga dan massa mahasiswa yang didominasi berasal dari kampus STKIP Bima itu menyampaikan tuntutannya  persis di depan jalan masuk kantor Pemkot. “Kami mohon, Pak wali!. Kami bukan anak tiri. Kami punya hak yang sama dengan masyarakat Kota yang lain dalam pembangunan,” teriak para warga dari balik gerbang kantor Pemkot yang belum kunjung dibuka. [BQ]

 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *