Pengadaan Alkes RSUD Bima Dituding Mark Up

Kota Bima, Kahaba.- Bukan hanya pelayanan yang kerap menjadi sorotan diRSUD Bima, pun masalah pengadaan alat kesehatan (Alkes) juga tak lepas dari sorotan. Salah satu item pengadaan barang yang harganya hanya berkisar Rp1 juta misalnya, malah dibeli dengan harga sebesar Rp 6 juta, belum lagi sejumlah item lainnya yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima. Foto: Buser

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima. Foto: Buser

Kursi panjang yang ditempatkan di ruang tunggu seharga Rp 6 juta itu tak pelak  memunculkan tanda tanya tersendiri. “Staf dan karyawan terheran-heran dengan harga kursi panjang itu. Ini kan konyol, mark up nya banyak sekali,” sorot salah seorang pegawai RSUD Bima Senin (17/12/2012) lalu.

Tidak hanya kursi, mereka menyebutkan pengadaan lampu operasi pun tidak sesuai dengan spek. Akibatnya, lampu itu tidak bisa difungsikan begitu tiba di ruangan operasi. “Lampu itu sudah dikembalikan, pegawai minta lampu yang sesuai dengan kebutuhan untuk operasi dan spek yang telah ditentukan,” ujarnya

Ia mensinyalir hal ini tidak hanya ditemukan pada satu atau dua item barang saja.  Demikian pula dengan sejumlah item yang tertera pada kebutuhan pengadaan alkes lainnya, hampir tidak sesuai dengan spek yang ada.

Tindakan mark up tersebut diduganya sama saja menguntungkan pihak yang melakukan pengadaan, baik itu secara pribadi maupun kelompok. Menurut mereka, praktek penyalahgunaan anggaran ini mestinya tidak dilakukan lagi di RSUD Bima, karena masih banyak kekurangan yang harus terus dilengkapi. Mestinya, anggaran sisa yang digunakan untuk membeli kursi tersebut bisa digunakan untuk pengadaan barang lain yang bisa dimanfaatkan di RSUD Bima.

“Bagaimana nanti jika RSUD statusnya sudah meningkat menjadi Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD), masih dikelola oleh Pemerintah Daerah saja, begini,” keluhnya.

Atas temuan ini, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pengadaan Alkes RSUD Bima, Syahmir yang ditemui di tempat berbeda, Rabu (19/12/2012), enggan berkomentar. Dia menyarankan untuk bertanya langsung ke Direktur atau Humas RSUD Bima.

Direktur RSUD Bima, dr. M. Ali, SpDp yang hendak ditemui di ruangannya, tidak ada di tempat. Namun melalui Humas RSUD Bima, dr. H. Sucipto mengaku dirinya belum mengetahui tentang pengadaan itu apakah bermasalah atau tidak. “Saya belum lihat kuitansi pembeliannya, nanti akan kita cek. Kalau memang bermasalah atau ada perbedaan harga yang sangat jauh, patut dicurigakan,” katanya, Rabu (18/12/2012) di RSUD Bima. [BK]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *