Pembenaran Gaya Lama Ala BKD

Kabupaten Bima, Kahaba.- Sikap BKD Kabupaten Bima yang terkesan melepas tanggung jawab atas terbitnya SK Bupati Bima dituding oleh anggota Komisi I DPRD sebagai pembelaan diri yang bergaya lama. Padahal BKD sebagai dinas yang terkait harusnya telah mengkaji dan menelaah sebelum SK pengangkatan tenaga honorer tetap pada tahun 2012 itu dilegalisasi oleh Bupati Bima.

Sumber: mencariindonesia.com

Ilustrasi

Menurut Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Bima, Abdullah S.Ag, jawaban BKD Kabupaten Bima melalui kepala dinasnya bahwa penerbitan SK pada enam tenaga honorer tetap daerah yang bekerja di Dinas Peternakan hanya untuk mengisi kekosongan formasi yang ditinggal tenaga honorer terdahulu yang telah mengundurkan diri dan atau dipecat karena tindakan indispliner terkesan sebagai pembenaran yang bergaya lama.

Bukan hanya digunakan pada enam tenaga honorer tetap yang di-SK-kan pada tahun 2012 itu, sejak ditutupnya pintu untuk penerimaan tenaga honorer daerah per 31 Desember 2010, alasan yang sama sering kali digunakan eksekutif untuk melegalisasi banyak pelanggaran. “Praktek itu sering dilakukan, dan dilakukan lagi oleh BKD. Saya tidak kaget dengan modus usang itu,” ungkap Abdullah.

Lanjut Abdullah, perekrutan tenaga honorer baru tersebut selain berpotensi manipulatif dan tidak mengedepankan asas keadilan untuk masyarakat, tentunya juga akan berimbas pada anggaran daerah yang kan semakin terbebani. Pada saat evaluasi anggaran APBD tiap tahunnya di Propinsi terkait pembiayaan tenaga honorer yang berjumlah belasan ribu tersebut, Pemkab selalu disorot atas kebijakan tersebut.

“Tidak elegan dan cenderung mencederai nurani masyarakat, karena kebijakan yang dipaksakan itu ujung-ujungnya keuangan daerah yang akan dibebani,” pungkas duta Partai Amanat Nasional ini.

Abdullah pun mengungkapkan, untuk mengetahui kejelasan motivasi BKD dalam mengeluarkan beberapa SK bermasalah ini, Komisi I DPRD Kabupaten Bima dalam waktu dekat akan memanggil instansi itu. “Apa tujuan diangkatnya tenaga honorer yang kebanyakan berijazah SMA itu? Apakah tenaga honorer lulusan SMA itu bisa menghidupkan sapi yang sudah mati?” tanyanya bernada cemoohan. [A*/BQ]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *