Pelabuhan Sape Ditutup, Sopir Merana

Kabupaten Bima, Kahaba.- Penghentian operasi pelayaran Pelabuhan Sape akibat cuaca buruk sejak sepekan terakhir berimbas pada terkatung-katungnya nasib para sopir truk ekspedisi tujuan NTT. Mereka mengeluh kehabisan biaya hidup, juga kuatir barang angkutan mereka yang rusak akibat tak kunjung tiba di tempat tujuan.

Pelabuhan Sape ditutup akibat cuaca buruk.

Pelabuhan Sape ditutup akibat cuaca buruk.

Para sopir truk yang terparkir rapi di lapangan parkir itu, menunggu bila saja cuaca membaik dan pihak Pelabuhan Sape segera memberangkatkan mereka. Tidak sedikit diantara para supir truk itu yang menanti sejak sepekan yang lalu.

Berdasarkan pantauan Kahaba pada Sabtu (12/1/2013) siang, raut cemas tampak di wajah puluhan sopir yang sedang mengantre untuk diseberangkan itu. Uang bekal mereka hampir habis untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum sehari-hari. Belum lagi jika barang yang diangkut yang tidak tahan lama, akan rusak atau membusuk  dalam ketidak-jelasan.

Dugaan lain yang tidak berkaitan dengan akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi pun dilontarkan pula sejumlah sopir. Maxi (35) supir truk asal Flores, mengaku kecewa dengan pelayanan pelabuhan setempat.

Pasalnya, meski cuaca sedikit tidak bersahabat,  kapal Feri harusnya dapat melintas aman sampai tujuan. “Cuaca membaik, gelombang juga tidak terlalu meninggi, mestinya sudah bisa nyeberang, “ujarnya.

Senada dengannya, Vinces Sukur (40) sopir fuso asal Manggarai, juga kesal dengan penantian ini. Ia dan juga rekan-rekannya yang lain menduga, penghentian pelayaran bukanlah disebabkan oleh gelombang tinggi. Lebih karena, areal pelabuhan saat ini tengah direnovasi oleh. ”Pihak pelabuhan enggan membuka pelayaran karena tengah memperbaikinya, “duga para sopir.

Dugaan ini kemudian dibantah keras oleh pihak pengelola pelabuhan. Kepala PT ASDP Indonesia Ferry  Cabang Sape Indro Pramugi yang dihubungi di tempat terpisah mengaku, penutupan aktivitas pelayaran ini murni disebabkan karena cuaca buruk yang terjadi.

Keputusan ini diambilnya berdasarkan peringatan cuaca yang disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meterologi Bima yang memperingatkan para pelaku pelayaran tentang terjadinya gelombang tinggi yang terjadi di Selat Sape. “Dengan kecepatan anggin cukup tinggi terutama pada malam hari dan tinggi gelombang dapat mencapai 6-8 meter, kami tidak berani ambil resiko memaksakan pelayaran, “pungkasnya.

Indro mengungkapkan, saat ini antrean truk dan kendaraan pengangkut barang yang hendak menyeberang ke Labuhan Bajo mencapai 52 unit. Antrean kendaraan itu masih dikategori wajar karena kapasitas parkir Pelabuhan Sape dapat mencapai 140 unit. Ia memperkirakan, masih banyak kendaraan yang memilih menunggu di luar pelabuhan, seperti di Kota Bima hingga pelabuhan kembali dibuka.

“Kami hanya bisa menghimbau mereka bersabar, karena para sopir bisa melihat sendiri cuaca belakangan ini. Mudah-mudahan semua pihak memahaminya,” harapnya. [BQ]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *