Uang Rehab Bangunan SDN 07 Dibawa Lari

Kota Bima, Kahaba.- Proyek perbaikan dua lokal kelas di SDN 07 Kota Bima yang harusnya sudah bisa dimulai, kini tidak jelas nasibnya setelah salah seorang oknum panitia proyek membawa kabur dana belanja barang. Padahal atap bangunan lama telah dibongkar dan kegiatan belajar dipindahkan.

Ilustrasi

Ilustrasi

Kepala Sekolah SDN 07 Kota Bima H. Mukhtar H. Ahmad SPd ketika ditemui di ruangannya Sabtu (12/1) mengungkapkan, sekolah telah menyerahkan uang sekitar Rp20-an juta untuk membeli bahan-bahan bangunan pada tanggal 3 januari 2013 kepada salah seorang anggota panitia yang bernama Ruslan. Namun sepuluh hari berselang setelah penyerahan itu,  barang yang hendak di beli tak kunjung tiba.

“Atap bangunan sudah sebagian telah dibongkar dan rehab harus segera diselesaikan, tapi materialnya tidak kunjung dibawa olehnya,” ujarnya.

H. Mukhtar mengaku, pihaknya terus berupaya menghubungi Ruslan untuk menyelesaikan tanggung jawabnya, namun Handphonenya tak diaktifkan. Bahkan, yang bersangkutan tak kunjung menampakkan mukanya ketika pihak sekolah telah beberapa kali mendatangi rumah orang tua siswa tersebut.

Bukti-bukti berupa surat penyerahan uang terhadap Ruslan masih dikantongi oleh pihak sekolah, H. Mukhtar mengancam akan menggunakannya utuk melaporkan panitia pembangunan itu ke pihak yang berwajib. “Jika Ruslan masih tidak ada kabarnya, ya terpaksa kita melaporkan tindakannya ke polisi,” akunya.

Akibat hal ini H. Mukhtar mengaku sekolah mengalami kerugian. Pencairan tahap kedua untuk proyek senilai Rp 122 juta itu terancam terhambat dikarenakan SPJ yang tidak bisa disetorkan pada pihak dinas. Belum lagi pelaksanaan proses belajar mengajar siswa pun terganggu, karena siswa yang menempati dua lokal ruangan itu harus digabungkan dengan siswa di kelas lain. [BK]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *