Masyarakat Tuntut Pembenahan Pasar Raya

Kota Bima, Kahaba.- Buruknya kondisi Pasar Raya kota Bima khususnya pada musim penghujan membuat sejumlah masyarakat kota yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Kota (Gebrak) menggelar aksi di perempatan Pasar Raya Kota Bima. Selain menuntut perbaikan pasar, mereka juga meminta transparansi retribusi yang selama ini disetor para pedagang pasar.

Unjuk rasa menuntut pembenahan Pasar Raya Kota Bima. Foto: Bin

Unjuk rasa menuntut pembenahan Pasar Raya Kota Bima. Foto: Bin

Pasar Raya Bima yang kondisinya kotor dan jorok akhir-akhir ini mejadi keprihatinan tersendiri masyarakat kota Bima. Seperti yang terjadi Selasa (29/1/2013) pagi, belasan orang yang menyebut dirinya Gerakan Rakyat Kota (Gebrak) melakukan aksi di tengah-tengah perempatan lampu lalu-lintas Pasar Raya. Para pengunjukrasa yang terdiri dari unsur pemuda dan pedagang pasar ini mengeluhkan tidak adanya perhatian pemerintah terhadap kondisi pasar.

Koordinator lapangan aksi, Don kepada Kahaba mengungkapkan, dengan kondisi pasar yang tidak layak lagi untuk digunakan sebagai pusat aktivitas ekonomi, maka Pasar Raya Kota Bima sudah seharusnya direnovasi. “Kami mendesak pemerintah Kota Bima agar segera merenovasi Pasar bawah Bima karena kondisinya sudah sangat memperihatinkan,” ujarnya.

Menurutnya, Pasar Raya Kota Bima sudah tidak layak di sebut sebagai pasar. Kondisi komplek pasar yang kotor, becek dan dipenuhi sampah lebih tepat jika disebut sebagai tempat sampah raksasa kota Bima.

Terkait kondisi itu, para pedagang setempat dikatakannya juga tidak bisa berbuat banyak. “Keinginan para pedagang Pasar Raya Kota Bima hanya satu, pasar harus segera diperbaiki,” tegasnya.

Kurangnya perhatian Pemkot terhadap kondisi pasar juga disesalkan para pengunjuk-rasa. Menurut mereka, pajak dan retribusi yang para pedagang bayarkan kepada Pemkot tidak sedikit jumlahnya. kenyamanan dan  pelayanan yang diterima oleh para pedagang dan pengunjung pasar dari pemerintah yauh dari kata memuaskan. “Lalu, kemana pajak dan retribusi yang selama ini ditarik dari para pedagang pergi?” Tanya Don. [BK]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *