Kondisi Gedung Bakal Kampus PTN Bima Memprihatinkan

Kabupaten Bima, Kahaba.- Gedung yang menjadi tempat direncanakannya Perguruan Tinggi Negeri (PTN) milik Kabupaten Bima berdiri di Desa Sondosia Kecamatan Bolo, kondisinya memprihatinkan. Beberapa bagiannya telah lapuk dimakan usia, padahal anggaran yang telah dikucurkan pada APBD 2009 lalu, mencapai Rp 2,5 Miliyar.

Ilustrasi

Ilustrasi

Sukrin HT, S.Pd M.Pd dan Ahmad Yani Umar, S.EI M.Pd, anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Bima dalam rapat paripurna dewan tentang pembahasan hasil monev Selasa (19/2/2013)  di ruang komisi setempat mengungkapkan, gedung kampus gedung yang dipersiapkan untuk menyongsong hadirnya PTN di Bima itu tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan.

 “Jangankan menjadi kampus, aktifitas yang berbau perkuliahan sama sekali tidak nampak,” ujarnya menceritakan hasil pantauan langsung dirinya bersama sejumlah anggota Komisi IV lainnya saat Monitoring dan Evaluasi (Monev) beberapa waktu lalu.

Mirisnya lagi, berdasarkan informasi di lapangan terendus bahwa gedung bakal kampus negeri pertama di Bima itu kerap kali dipakai untuk berbuat mesum oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. “Terkandang dipakai mesum, “ujar Sukrin yang juga diiyakan rekannya Yani.

Ia menyayangkan, kucuran dana untuk gedung itu tidak sedikit nilainya. Dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2009 lalu, sebesar Rp 2,5 Miliyar dikucurkan pemerintah untuk membangun gedung yang representatif menjadi kampus. Yang jelas menurutnya, itu bukanlah anggaran yang sedikit ditengah kebutuhan dan tuntutan masyarakat diseluruh belahan negeri Bima ini yang berharap akselerasi pembangunan infrastruktur.

 “Melihat kondisi gedung tua itu, kami selaku bagian dari legislatif merasa kecewa karena telah menyepakati anggaran itu,“ kesal Sukri dan Yani karena telah menyetujui

Menindaklanjuti temuan itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan eksekutif untuk menyiasati dan meneruskan keberadaan gedung kampus PTN yang ada di Sondosia. “Bahasa apa lagi yang mesti disampaikan pada eksekutif agar bisa dipahami dan diamini. Yang pasti kami tidak ingin meninggalkan dosa keturunan atas kebijakan merespon anggaran tak bermanfaat sebanyak itu,“ herannya, sembari menuding eksekutif acuh memaknai kondisi yang ada.

Malah kata kedua anggota yang dikenal vokal ini, saat pengambilan keputusan penganggaran ABPD 2009 sebesar Rp 2,5 Miliyar untuk pembangunan gedung kampus yang ada di Sondosia, sebagai cikal bakal PTN, Wakil Bupati Drs H Syafruddin HM Nur MPd, masih berstatus sebagai Anggota DPRD Kabupaten Bima. “Mestinya perjuangan bersama saat itu, dimaknai secara nyata oleh Wabub, “sentil keduanya. [AR*/BQ]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *