Guru SMPN 7 Keluhkan Berkurangnya Honor

Kota Bima, Kahaba.-  Nominal honor dari dana bantuan Operasional sekolah (BOS) yang semakin lama semakin kecil diterima membuat sejumlah pegawai honorer dan sukarela di SMPN 7 Kota Bima mengeluh. Bagaimana tidak, dari Rp 400 ribu honor yang biasa mereka terima pada dua tahun lalu, kini berkurang drastis menjadi Rp 90 ribu.

Ilustrasi

Ilustrasi

Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang guru non PNS setempat yang tidak mau ditulis namanya, pendapatan mereka dari honorarium dana BOS dari hari ke hari semakin tidak memadai. Jika tahun 2010 lalu, mereka bisa menerima sebanyak Rp400 ribu, tapi setiap tahunnya jumlah itu menyusut mulai dari Rp200 ribu pada tahun 2011, Rp120 ribu pada tahun 2012, kemudian di tahun ini turun hanya sebesar Rp90 ribu saja.

Dengan penurunan penghasilan tersebut, praktis para tenaga pengajar di SMPN 7 itu mengeluh. Mereka juga pernah menanyakan terkait pemangkasan honor kepada bendahara setempat, namun tak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari pengelola keuangan sekolah itu. “Ketika kita tanyakan alasannya, tidak jelas jawaban mereka,” kata guru honorer itu, Rabu (20/2/2013).

Menurutnya lagi, kebijakan mengurangi jumlah honor tersebut menurutnya dilakukan sepihak, karena setiap pengurangan honor tidak disosialisasikan ke guru honor dan sukarela. “Biar bagaimanapun kami disini juga memiliki peran penting untuk memajukan dunia pendidikan di sekolah ini, tapi masalah honor itu kami tak pernah diberitahukan lebih awal” jelasnya.

Di tempat terpisah, Kepala Sekolah SMPN 07 Kota Bima, Ruslan, SPd, MSi yang ditemui di ruangannya Rabu kemarin menuding jika guru yang bersangkutan tidak tahu persoalan. Berkurangnya honor tersebut, karena berkurangnya dana BOS yang masuk ke sekolah.

Menurut Ruslan, berkurangnya dana BOS yang diterima sekolahnya dikarenakan jumlah siswa di SMPN 07 Kota Bima berkurang dari tahun-tahun sebelumnya. Jumlah siswa tahun 2013 berkurang menjadi 345 orang, dengan hitungan masuknya dana BOS per orang siswa sebanyak Rp710 ribu maka tahun ini sekolah hanya mendapatkan Rp61 juta dari program BOS.

Lanjutnya, pembagian dana BOS pun, lanjutnya, tidak diberikan semata-mata untuk membayar honor guru. Tapi juga untuk pemenuhan fasilitas belajar, infrastruktur serta diberikan kepada siswa yang tidak mampu untuk biaya transportasi.

Dikatakannya, kalau ada guru yang mengeluh akibat hal tersebut, dipastikannya guru tersebut jarang mengikuti rapat dan malas masuk mengajar. “Pada setiap kesempatan kami sering memberitahukan permasalahan dana BOS ini semua guru honor dan sukarela,” tambahnya. [BK]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Syarif

    Era baru banyak bermunculan masalah baru. Pada jaman dahulu namanya institusi pemerintah itu tempat terhormat, bukan kerena orang2 didalamnya gila hormat, tapi karena seleksi terhadap orang2 untuk bisa berada didalam itu yg istimewa, jadi tidak semua orang bisa masuk begitu saja untuk bisa diakui sebagai anggota institusi pemerintah.
    Jaman telah berubah, sepertinya hampir tidak ada lagi pintu seleksi ketat, institusi pemerintah banyak seperti tidak bertuan, siapa saja bisa meminta diri untuk jadi honerer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *