Bantuan Disosnaker Beraroma Politis

Kota Bima, Kahaba.- Dinamika menjelang perhelatan Pemilukada Walikota dan Wakil Walikota bima 2013-2018 semakin menghangat. Berbagai cara dilakukan tiap pasangan bakal calon untuk merebut simpati pemilih, termasuk dugaan penggunaan uang negara dalam rangka kampanye salah satu calon seperti yang dilaporkan terjadi di sejumlah kelurahan beberapa hari terakhir.

Ilustrasi

Ilustrasi

Pejabat Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Disosnaker) Kota Bima telah membagikan bantuan berupa sembako kepada sejumlah warga tidak mampu di Lingkungan Bonto Kelurahan Kolo Kecamatan Asakota yang oleh sejumlah warga setempat diduga untuk memenangkan salah satu pasangan calon.

Pembagian bantuan di Lingkungan Bonto Kelurahan Kolo itu disinyalir oleh berbagai pihak sarat akan unsur politis, pasalnya dalam kegiatan hari Selasa (13/3) pukul 13.00 wita itu, dilakukan di salah satu posko pemenangan pasangan bakal calon incumbent Walikota dan Wakil Walikota Bima H. Qurais H. Abidin dan H. Arahman H. ABidin (QURMA).

Tidak hanya itu, aroma kampanye politik dengan kedok pembagian sumbangan yang berasal dari anggaran APBN itu semakin terasa dengan dugaan terjadinya diskriminasi penerima bantuan. Bantuan instansi pemerintah itu, berdasarkan keterangan sejumlah warga hanya didapatkan oleh orang-orang tertentu saja, tanpa pendataan dan sosialisasi sebelumnya sehingga masih bayak warga tidak mampu lainnya yang tidak mendapatkan bantuan.

Sebagaimana kesaksian AH (45), warga Bonto itu mengaku kalau pemberian bantuan itu terkesan dilakukan secara diam-diam. Masyarakat setempat merasa tak pernah mendapatkan pemberitahuan sebelumnya, malah pejabat Disosnaker tiba-tiba datang memanggil warga dan langsung membagikannya. Apalagi lokasi pemberian bantuan tidak dilakukan dirumah ketu RT atau RW setempat, melainkan di salah satu posko pemenangan pasangan Qurma Manis yang saat ini merupakan pejabat Walikota dan Wawali Bima.

Tambah AH, dari kegiatan pembagian sembako tersebut menurut warga terkesan politis, dan diduga dalam plastik sembako tersebut ada sticker bakal calon walikota dan setiap warga yang menerima bantuan sampai difoto. ”Aneh kok warga tidak mampu yang lain tidak diberikan,” pungkas AH.

AH juga melaporkan keanehan yang ia temui dalam pembagian bantuan itu. Bantuan itu diserahkan pada saat hari libur, padahal biasanya tidak pernah ada pembagian bantuan sosial pada saat libur nasional. Tambahnya lagi, pada pembagian hari Minggu itu bantuan diserahkan oleh salah seorang warga setempat, oknum kontraktor  yang notabene bukan pejabat Disosnaker Kota Bima.

Pihak Kontraktor yang rumahnya tepat di belakang posko QURMA Manis, H.Haris yang dimintai tanggapan, membantah pembagian sembako didalam posko, namun dilakukan dikediamannya. Hal itu sudah disepakati bersama warga lain.

Mengenai informasi adanya sticker didalam bantuan sembako, H. Haris membantahnya, menurut Haris, tidak ada sticker ataupun foto, semuanya tidak benar. Kata dia, bantuan yang diserahkan itu tidak ada kaitannya dengan masalah politik karena bantuan tersebut diserahkan oleh pihak Dinsos Kota Bima.

Sementara Kepala Disosnaker Kota Bima, Drs.H.Muhidin yang dikonfirmasi terpisah mengakui adanya kegiatan pemberian bantuan sembako kepada warga Lingkungan Bonto tersebut, bantuan tersebut diberikan kepada warga yang saat ini tidak melaut khususnya warga pesisir.

Bantuan sembako adalah bantuan dari pemerintah Propinsi NTB bukan dari anggaran Pemkot Bima, pihaknya hanya meneruskannya kepada warga saja. jumlah total bantuan yang diserahkan berupa sembako bagi 210 Kepala Keluarga(KK) dengan total anggaran Rp 18 juta.

Mengenai isu adanya sticker dalam plastik bantuan sembako? Diakui H.Muhidin itu tidak benar, dan bukan masalahnya karena dari awal pemberian bantuan tidak pernah dimasukan sticker siapapun didalam bungkusan sembako yang diserahkan. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *