Siapa Bilang Petani Bawang Paling Diuntungkan?

Kabupaten Bima, Kahaba.- Ditengah harga bawang yang melejit tinggi di pasaran, banyak pihak menilai petani bawang paling diuntungkan. Benarkah demikian? hari Selasa (19/13) kemarin Kahaba berkesempatan mendapatkan laporan langsung dari sejumlah petani yang tengah melakukan panen bawang di Kecamatan Belo Kabupaten Bima.

Harga Bawang merah melangit

Harga Bawang merah melangit

Ketua Kelompok Tani Tolomango Desa Lido Kecamatan Belo, Hidayat saat dihubungi via telepon oleh Sekretaris Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Bima, Sudirman SE. mengaku saat ini sejumlah  petani di Kecamatan Belo tengah memanen bawang merah. Sejumlah desa, diantaranya Desa Lido dan Soki awalnya merasa beruntung, karena berkesempatan panen pada saat harga bawang merah mencapai lima kali lipat dari harga biasanya.

Namun kondisi di lapangan sedikit berbeda. Berdasarkan pengakuan Hidayat,  saat para petani usai memanen bawangnya, sejumlah pembeli berdatangan mengajukan penawaran membeli bawang petani. Para pembeli itu bahkan langsung mengunjungi tiap petak sawah yang sedang panen dan mengajukan penawaran seharga Rp 20 ribu per kilogram. Sebuah harga yang tentunya sangat jauh dari harga terkini bawang merah di pasar.

“Hari ini (Selasa, red) sekitar 5 ton bawang diangkut dari persawahan warga. Itupun tidak sampai ke jalan, karena para pedagang langsung memborongnya di tengah areal sawah,” ujar Hidayat melalui telepon.

Harga bawang dari tangan petani yang tidak seberapa dibandingkan dengan harga pasar itu menyiratkan petani tidak mendapatkan porsi keuntungan yang besar akibat lonjakan harga bawang yang mencapai Rp 50 per kilogramnya.  Ia memperkirakan, tawaran harga tersebut langsung diterima petani karena dirasakan sudah lebih dari cukup untuk mengembalikan biaya produksi yang sebelumnya meningkat akibat naiknya harga pupuk dan pestisida.  “Ya kita jual Rp 20 ribu per kilogram,” kata dia.

Untuk wilayah pertanian Desa Lido, pada musim tanam kali ini total bawang merah yang dihasil dipanen petani adalah sekitar 40 ton. Jumlah ini dinilai tidak sebanyak panen sebelumnya. Para petani tidak menduga akan adanya kenaikan drastis harga bawang, karena pada musim tanam sebelumnya harga bawang merah sempat anjlok hingga menyebabkan kerugian.

“Karena petani rugi menanam bawang jadi mereka menanam padi. Petani tahun kemarin rugi karena saat panen stok melimpah tapi harga turun, modalnya juga besar,” tutur Hidayat. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

  1. Uba la Haykal

    Kita memang tidak pernah berada dalam posisi ‘PENENTU’ harga. Disaat kita membeli, PEDAGANG yang menentukan harga. Disaat kita punya komoditas dan menjual barang kita pun tetap PEDAGANG yang menentukan harga. Posisi ini disebabkan oleh kurangnya informasi pasar ditingkat petani dan kebutuhan petani yang mendesak, sehingga mau tidak mau, kita harus cepat menjual utk menutupi kebutuhan itu. Biaya usaha tani (bibit, pupuk, obat2an, harga sewa tanah, sewa tenaga kerja) yang besar, membuat kita semakin terdesak. Kondisi ini diperparah oleh komoditas bawang merah yang tergolong dalam sayur-sayuran yang tentunya cepat membusuk dan menyebabkan harganya fluktuatif. Saatnya kita duduk bersama untuk mencari solusi terbaik. Bisa saja Pemerintah (Dinas Pertanian dan Perdagangan serta pihak terkait) membentuk semacam Tim Ekonomi yang bertugas mencari Peluang Pasar sampai dengan memasarkannya (membuat MoU dengan Pedagang2 besar di Jawa, Bali atau Kalimantan) untuk menerima bawang kita pada masa2 tertentu, sesuai dg siklus panen kita. Dengan demikian, ada tata kelola yang baik dan harga tidak bisa dipermainkan oleh pedagang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *