Kendati Panen, Bawang Merah Dijual ke Luar Bima

Kabupaten Bima, Kahaba.- Salah satu penyebab langka dan mahalnya harga bawang merah di wilayah Kota dan Kabupaten Bima adalah diduga karena bawang hasil panen wilayah ini habis dikirim ke luar daerah. Para pedagang dinilai cenderung langsung menjual bawang merah ke Pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan tanpa memikirkan stok dan kebutuhan untuk daerah.

bawang merah bima4

Bawang merah langka karena dijual ke luar daerah

Kendati Bima dikenal sebagai sentra tanaman bawang merah untuk Wilayah NTB dan Indonesia Tengah, namun belakangan ini persediaan bawang di pasar lokal Bima menipis bahkan habis. hal ini tentunya aneh, mengingat panen bawang merah telah berlangsung di beberapa kecamatan di Kabupaten Bima.

Seperti yang disampaikan oleh  A. Gani, pengusaha sekaligus petani bawang yang juga merupakan anggota DPRD Kota Bima, naiknya harga serta hilangnya stok bawang di Bima saat ini adalah akibat dari pengiriman komoditi bawang yang berlebihan oleh beberapa pengusaha ke daerah lain.

“Bahkan para pengusaha itu langsung menjemput bawang-bawang yang sedang di panen petani di sawahnya,” kata dia Selasa (20/3) kemarin

Apalagi saat ini, kenaikan harga komoditas ini cukup signifikan dan terjadi secara nasional. Dengan perbedaan harga jual yang signifikan antara pasar lokal dan nasional itu, oleh pengusaha bawang dari Bima kemudian dikapalkan untuk memenuhi kebutuhan pasar di luar daerah. Selama ini daerah yang rutin menjadi langganan bawang Bima diantaranya Banjarmasin, Makassar, dan sejumlah kota dan Pulau Jawa.

“Jadi untuk saat sekarang, walaupun dalam kondisi panen tapi stok bawang di Bima bisa dipastikan menipis karena semuanya dijual ke luar daerah,” pungkasnya.

Kepala Dinas pertanian Kabupaten Bima, Ir. H. Nurdin ditemui Kahaba di termpat berbeda mengaku, sentra bawang merah yang saat ini telah selesai panen diantaranya wilayah Rontu Kecamatan Monta. Sementara untuk Kecamatan Belo saat ini sedang dalam proses panen.

Dari data Dinas Pertanian untuk musim hujan sekarang,  hanya petani yang berani menanggung resiko saja yang menanam bawang. Hal ini dikarenakan tanaman pertanian itu sangat rentan dengan curah hujan dan kelembaban yang berlebihan. Bila ditanam pada musim penghujan, bawang sangat rentan terkena penyakit dan membusuk sehingga berpeluang besar untuk gagal panen.

“Pada musim tanam saat ini yang bertepatan dengan penghujan, dari 8000 hektar total luas areal pertanian bawang, hanya sekitar 200 hektar saja yang difungsikan untuk menanam bawang,” ungkap Nurdin.

Karena usia panen tanaman bawang hanya 67 hari, dan sejak bulan April curah hujan diperkirakan menurun, panen raya bawang di sejumlah sentra bawang Kabupaten Bima kemungkinan jatuh pada bulan Mei dan Juni.  [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *