Pesta Miras di Posko Calon Walikota, Warga Jadi Korban

Kota Bima, Kahaba.-Pos komando (posko) pemenangan pasangan Calon Walikota rupanya melenceng dari tujuan sebenrnya dan harus ditinjau keberadaannya. Di posko salah satu pasangan calon di RT 02 RW 01 Lingkungan Tolotando Kelurahan Matakando pada hari Sabtu (30/3) sore terjadi insiden penganiayaan yang dilakukan oleh DN (25) dan teman-temannya  terhadap Samsiah (53) warga setempat. Diduga, pelaku dalam pengaruh alkohol usai menggelar pesta miras di tempat itu.

Ilustrasi. Gambar: Kahaba.info

Ilustrasi. Gambar: Kahaba.info

Saksi mata, Hairul, kepada sejumlah wartawan di kediamannya, mengatakan, ulah para pelaku dan teman-teman selama ini sudah sangat meresahkan warga sekitar. Hampir setiap hari mereka menggelar pesta miras di salah satu posko berwarna kuning tersebut. Tidak hanya itu, tindakan mereka yang sering menyetel musik dengan suara keras hingga tengah malam dinilai sangat menggangu warga yang beristirahat.

Puncak kekesalan warga terjadi pada Sabtu (30/3) sekitar pukul 15.00 Wita. Para pelaku membuat onar usai menggelar pesta miras dengan menarik pengendara motor yang lewat di depan posko tersebut. Sejumlah warga yang terganggu dengan keributan itu kemudian melarang para pelaku menggelar pesta miras di Posko. Tidak terima ditegur,  pelaku terlibat aksi saling dorong dengan salah seorang warga setempat.  Korban Samsiah (53) yang saat itu sedang menjual ikan, kemudian masuk ke dalam kerumunan warga tersebut lalu mencoba menegur pelaku DN yang terbilang masih kerabat dekatnya itu.

Bukannya dituruti, atas teguran korban pelaku DN memukul Samsiah  hingga jatuh terjungkal.  Akibatnya, korban  mengalami luka di bagian wajah dan lecet pada tangan dan kaki karena terjatuh. Sementara itu bakul ikan dan sayur yang ia jajakan juga terjatuh dan berhamburan di tanah. Tambah Haerul, dirinya kemudian membawa korban berobat sekaligus untuk melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Tak berselang beberapa lama, karena melihat kedatangan polisi, pelaku pun kabur bersama temannya dengan menggunakan sepeda motor. Praktis terjadi aksi kejar-kejaran antara pelaku dengan aparat kepolisian yang mengendarai mobil. Lanjut Haerul, para pelaku kemudian berhasil diringkus polisi di Kelurahan Penatoi dan hendak diangkut ke Mapolres Bima Kota. Namun pada saat para remaja teler itu dalam perjalanan ke kantor polisi, lagi-lagi mereka kembali melarikan diri.

Berdasarkan pantauan wartawan,  kaburnya para pelaku di jalan Gajah Mada Kelurahan Penaraga itu lantaran kurang siapnya polisi yang menangani para pelaku. Bukannya diborgol,  mereka malah dibiarkan berboncengan dengan rekan pelaku lainnya dengan menggunakan sepeda motor. Terang saja, pelaku yang takut dipenjara itu memilih loncat dari motor yang tidak terkawal itu dan berhasil kabur ke tengah pemukiman warga.

Kasus Tolotando sepertinya harus menjadi pelajaran berharga untuk para calon. Seperti yang dituturkan oleh Ketua RW 01 Lingkungan Tolotando Hasan M. Ali, insiden penganiayaan itu dikecam oleh masyarakat setempat. Posko yang seharusnya menjadi tempat sosialisasi figur dan program calon pemimpin Kota bima itu harusnya tidak digunakan untuk hal-hal yang negatif. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Adhar

    Cukup membuat sy mengerutkan dahi. Tapi please buat redaksi artikelnya di permudah lagi kalimatnya ya..:) .terus terang perlu waktu untuk mencerna maksud baik artikel ini. Thanks

  2. ridha

    Pak RT n Pak RW n Pak Lurah lg ngapain yah.. Ada warga yg lg mabok.. Gmn klo bkn surat iji mau mabok dl spy d perhatikan..yg bngun posko yg mau warna apa aja..wajib sering d cek tuh..ntar jd BAR ato discaotik loh..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *