Dibangun Ratusan Juta, Dive Center Nangamiro Terbengkalai

Kabupaten Dompu, Kahaba.- Gedung milik Pemerintah Kabupaten Dompu yang berada di Desa Nangamiro, Kecamatan Pekat, saat ini terbengkalai. Pasalnya, gedung tersebut kondisinya tidak terawat dan tidak difungsikan sama sekali. Aset pemerintah itu pun banyak yang rusak.

Kondisi Dive Center Nangamiro Kecamatan Pekat yang dibangun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata akhir tahun 2017. Tampak tak terurus, dan terbengkalai. Foto: Ady

Informasi yang berhasil dihimpun media ini, bangunan ini dibangun oleh Pemda Dompu melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) akhir tahun 2017. Tujuannya, gedung ini akan difungsikan sebagai dive center.

Ketua Komunitas Pecinta Peyu dan Karang (KOMPAKK) Christian mengungkapkan, yang diketahuinya bangunan tersebut dibangun pada 2017 lalu oleh pemerintah. Tetapi, sejak awal dibangun hingga saat ini belum pernah difungsikan sama sekali. Bangunan ini sejak awal tidak ada yang merawat, sehingga kumuh dan rusak.

“Yang saya tahu, bangunan itu untuk diving center bagi pengunjung wisata, tetapi belum pernah ada yang menggunakan,” ungkapnya, Selasa (9/10).

Ia menyayangkan kondisi bangunan tersebut, karena anggaran yang digunakan untuk membangunan gedung itu tidak sedikit. Oleh sebab itu, ia berharap agar dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, supaya bangunan tidak terkesan mubadjir.

Sekarang saja kondisi bangunan sudah banyak yang rusak, karena tidak ada yang memelihara. Padahal ketika dibangun dulu, menggunakan anggaran negara dan nilainya tidak main-main mencapai seratusan juta lebih.

Chris – sapaan akrabnya – membeberkan, semula gedung ini direncanakan akan dibangun  di Desa Calabai. Namun, karena sesuatu dan lain hal, tiba-tiba saja di bangun di Desa Nangamiro. Pada rencana awal, pihaknya dilibatkan secara aktif, hingga semuanya sudah ready.

“Mulai dari suarat menyurat, pembebasan lahan hingga surat keputusan penyerahan hibah aset oleh Kades Calabai dan Camat Pekat. Namun, tiba-tiba bangun ini dipindah ke Desa Nangamiro,” tukasnya.

Sejak itu, pihaknya kemudian pun melepas tanggungjawab. Meski pada beberapa waktu lalu KOMPAKK diundang dan diajak oleh Disbudpar untuk mengelola dan memanfaatkan gedung tersebut.

“Kami terang menolak, karena tidak mungkin orang Calabai mengelola milik orang Nangamiro. Kami memiliki etika dan masih memiliki akal sehat, dan tak ingin terpecah bela gara-gara ini,” tegasnya.

Terlepas dari masalah keberadaan bangunan tersebut, Chris berharap, bangunan ini difungsikan sesuai dengan rencana awal. Pihaknya mengusulkan kalau memang difungsikan, jangan lupa dilibatkan tenaga lokal, pemuda pemudi Nangamiro sendiri. Atau pun, warga setempat.

Secara terpisah, Farid Fadli, salah satu pegiat pariwisata Dompu mengungkapkan, seharusnya pemerintah atau SKPD sebelum membangun fisik proyek terlebih dahulu memikirkan azas manfaat dan kegunaannya, jangan asal bangun.

“Jadi kesannya hanya buang-buang anggaran saja,” sorotnya.

Pria yang akrab disapa Capung ini pun meminta kepada Kepala Dinas Pariwisata agar segera bergerak, jangan sampai akan merambat ke persoalan lain. Sebab, gedung itu sudah lama tak berpenghuni. Jangan sampai menjadi temuan BPK maupun anggota dewan.

“Nanti kalau sudah jadi temuan pasti akan ribut dan panjang prosesnya,” tambahnya.

*Kahaba-09

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *