1300 Pekerja di Inggris Terima Surat Pemecatan Palsu

London, Kahaba,- Berita paling buruk bagi pekerja adalah pemecatan. Bahkan ancaman atau gossip PHK sudah cukup menimbulkan daya kejut luar biasa. Namun bagaimana jika anda terima surat pemecatan resmi lalu dinyatakan salah? Hal inilah yang menimpa 1300 pekerja Aviva, perusahaan insuransi terbesar kedua di Inggris. Panik menyerang ribuan karyawan Jum’at (20/4) kemarin. Mereka masing-masing mendapat surat elektronik (e-mail) yang berisi keputusan pemecatan. Dalam email setiap pekerja di rumahkan serta wajib mengembalikan semua properti perusahaan yang selama ini dipakai pekerja. Keresahan massif terjadi hingga akhirnya diklarifikasi bahwa email tersebut hanya dialamatkan untuk satu orang.

“Surat dimaksudkan hanya untuk satu orang,” demikian pernyataan juru bicara Aviva, Paul Lockstone, yang dilansir oleh Daily Teleghraph. “Terjadi kesalahan pengetikan sehingga terkirim ke banyak pekerja. Sebagian menduga itu adalah palsu namun sebagian lain panik dan ikut percaya,” tambahnya.

Penyataan Lockstone lalu diperkuat oleh permintaan maaf dari Human resource Department (HRD) perusahaan asuransi berbasis di London itu. Tetapi rilis resmi berita baru bisa diperoleh hari ini meskipun kejadian dan permintaan maaf berlangsung kemarin Jum’at (20/04/2012). Kejadian yang sama juga pernah menimpa seorang pekerja di New Jersey, Amerika Aerikat 2010. Kali ini surat palsu berasal dari New Jersey Civil Service Commission.

PHK dan pengangguran memang menjadi masalah sentral di Eropa dan Amerika Serikat sejak krisis financial global tahun 2008 lalu. Angka pengangguran naik yang diikuti oleh PHK besar-besaran dari sejumlah korporasi raksasa yang terkena imbas krisis. Negara-negara seperti AS, Inggris, Spanyol, Yunani, dan Portugal sedang berjuang memulihkan perekonomiannya. [Bloomberg/daily teleghraph/AA]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *