10 Fakta Penting Untuk Diketahui Tentang Gaza

Inggris, Kahaba.- Seiring semakin memanasnya situasi di palestina dan Israel, berikut ini kami sajikan sejumlah fakta penting tentang Gaza. Rakyat Palestina yang hidup di bawah ancaman agresi dan operasi militer Israel bukanlah satu-satunya malapetaka bagi mereka. Berikut ini fakta lain sebagaimana dihimpun oleh Mehdi Hasan, wartawan politik dari Huffington Post (UK) dilansiri, Senin (19-11-2012) :

1. Gaza adalah “penjara terbuka”

warga palestina di sekitar reruntuhan akibat serangan udara israel,kamis (15-12/2012) lalu. foto : ibrahim abu mustafa/Reuters

Suatu ketika David Cameron, perdana menteri inggris sekarang, menyebut Gaza layaknya kamp para tahanan yang menyerupai penjara terbuka tanpa jeruji. 1,7 rakyat Palestina dipaksa hidup berdesak-desakan pada wilayah yang hanya seluas 140 mil persegi. Gaza sendiri adalah salah satu kota terpadat di dunia.

Meskipun Israel telah menarik pasukan dan para pemukimnya dari jalur gaza pada 2005, Israel tetap berkuasa penuh. Israel mengontrol wilayah udara, daerah persediaan air, dan seluruh daerah perbatasan gaza ( kecuali perbatasan antara Gaza dan Mesir).

2. Gaza adalah medan tempur tak seimbang

Menurut B’Tselem, kelompok hak asasi manusia dari Israel, perang antara pejuang Palestina dengan militer Israel tidak pernah seimbang. Dalam pertempuran besar terakhir 2008, (Israel menyebut serangan waktu itu dengan nama operasi “cast lead”, 762 rakyat Palestina meninggal, termasuk lebih dari 300 anak-anak. Di sisi lain korban tewas Israel hanya berjumlah 3 orang.

Mungkin saja jumlah serupa akan terulang pada konflik hari ini.  “lebih banyak rakyat Palestina terbunuh daripada tentara Israel sejak serangan 5 hari ini dibanding warga Israel yang tewas dalam serangan hamas selama 3 tahun terakhir,” imbuh Yousef Munayyar, aktivis Palestina di AS.

3. Tindakan Israel sesungguhnya menyerang seluruh rakyat Gaza bukan cuma Hamas

Adalah umum bagi warga Israel bertanya, mengapa mereka (Hamas dan rakyat Gaza) membenci Israel? Pertanyaan super polos dan terkesan konyol. Gaza berada dibawah kepungan dan blokade Israel sejak tahun 2006. Persis sejak rakyat Gaza memilih Hamas dalam pemilu untuk menentukan pemerintah atau otoritas politik mereka sendiri.  Israel melancarkan blokade massif dan mencegah pasokan bantuan (sandang, pangan, dan obat-obatan) dari luar bagi rakyat gaza. Lebih parah, bahkan bumbu masakan seperti pala, jahe, dan ketumbar pun dihambat. Surat kabar juga tidak diperbolehkan.

Sebagian besar pakar hukum internasional hingga Palang Merah Internasional (ICRC) menyoroti blokade Israel sebagai tindakan ilegal yang melawan hukum humaniter internasional. Hamas dalam pandangan Israel adalah kelompok teroris sehingga perang terhadap Hamas wajib meski rakyat sipil dikorbankan.

4. Rakyat Gaza dipaksa “diet”

Pada 2006, Doy Weissglass yang kemudian menjabat sebagai staff perdana menteri Israel Ariel Sharon menjelaskan pendekatan dan kebijakan Israel di

Jalur Gaza. “Ide kami adalah rakyat Palestina mesti diet tapi bukan untuk membuat mereka mati kelaparan,” tukasnya. Apakah terdengar bergurau? Ternyata tidak.

Tahun 2008, dalam sebuah dokumen militer kementerian pertahanan Israel tertulis “Perhitungan berapa banyak jumlah kalori yang diperlukan rakyat Palestina adalah penting agar dapat menyangkal tuduhan bahwa kita membawa malapetak kemanusiaan bagi rakyat Palestina yang telah dimiskinkan akibat perang dan blockade…” kejam bukan?

Blokade dan pembatasan ketat bantuan makanan dan barang lainnya ke Gaza berada di bawah wewenang kementerian pertahanan Israel.

5. Pertumbuhan badan anak-anak Gaza sangat buruk

Sekitar 10 % dari anak-anak di Gaza mengalami pertumbuhan badan  kerdil akibat kurang gizi berkepanjangan.  “Malnutrisi kronis tiak pernah diatasi bahkan semakin memburuk,” sebagimana pernyataan organisasi kesehatan dunia (WHO) bulan Mei 2012.

6. Pengangguran tinggi dan putus asa ekonomi

Tingkat pengangguran usia muda (antara umur 20-24) di Gaza sekitar 58%. Data ini dilansir oleh kantor biro statistik Palestina. Iklim ekonomi dan usaha parktis macet akibat perang dan blokade dari Israel. Rakyat Gaza tidak memiliki ruang untuk berproduksi atau mengembangkan usaha.

7.  Tingkat stres anak anak sangat tinggi

Satu dari lima anak di Gaza mengalami post traumatic stress disorder (PTSD), sejenis gangguan psikologis berat akibat konflik dan kekerasan yang subur, sebagaimana dinyatakan oleh DR. Eyad el Sarraj, psikiater Palestina terkemuka.

8.  Dalih pembunuhan Ahmed Jabari adalah bohong

Seperti telah diketahui, serangan Israel sejak rabu (14-11-2012) lalu menewaskan salah satu perwira militer hamas, Ahmed Jabari. Menurut Israel, Jabari adalah teroris dengan tangan berlumuran darah yang layak dibunuh.

Dalih ini justru dibongkar dan ditolak oleh salah satu surat kabar Israel, Ha’aretz. Editor Ha’aretz, Aluf Benn menyatakan “Ahmed Jabari adalah seorang mitra yang menghubungkan Israel dan Hamas dalam negosiasi gencatan senjata di Gaza. Hamed Jabari sendiri adalah salah satu  negosiator dalam pembebasan seorang tentara Israel, Gilad Shalit, yang ditawan Hamas. Jabari bertugas untuk memastikan keamanan dan pelayanan yang layak terhadap Gilad”.

Menurut Gershon Baskin, aktivis perdamaian asal Israel, Jabarai adalah aktor kunci di sisi Hamas yang bertanggung jawab menjaga ketenangan Gaza dari dalam dan kerap kali memperjuangkan gencatan senjata tiap kali terjadi baku tembak antara pejuang Hamas dan Israel.

9.  Rakyat Gaza sangat miskin

Laporan terbaru dari perserikatan bangsa-bangsa (UN) mengungkapkan 80% rumah tangga di Gaza menerima bantuan finansial dan 39 % atau lebih dari 400 ribu warga di Gaza hidup di bawah garis kemiskinan

10. Rakyat Gaza adalah pengungsi di tanah mereka sendiri

Dua dari tiga rakyat Palestina di Gaza atau lebih dari 1 juta orang, mengidentifikasi diri sebagai pengungsi. Mereka datang ke jalur Gaza dari sejumlah wilayah seperti Yerusalem atau (sekarang yang menjadi)  Tel Aviv setelah pendudukan Israel pada tahun 1948. Sesuatu yang sangat ganjil mengingat perjanjian pada 1948 adalah solusi 2 negara untuk hidup berdampingan. Namun sayangnya fakta berbicara lain. [MehdiHasan/Huffingtonpost/AA]

 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *