Lensa NET TV di Tanah Nggahi Rawi Pahu

 “Guru-guru yang biasa-biasa, berbicara. Guru yang bagus, menerangkan. Guru yang hebat, mendemostrasikan. Guru yang agung, memberi inspirasi.” -William Arthur Ward, Penulis Asal Amerika Serikat

Kabupaten Dompu, Kahaba.- Di pelosok Nusantara, tunas-tunas harapan bangsa menimba ilmu dengan beragam keterbatasan. Tak terkecuali Desa Kiwu dan Riwo di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Ada sekolah yang gedungnya hangus terbakar seperti SDN 18 Kilo. Ada juga kelas dengan atap-atap berlubang di SDN 15 Woja sehingga air menggenangi ruangan ketika turun hujan. Belum lagi, semangat belajar-mengajar murid dan guru yang masih mengenal waktu. Setelah jam dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi, banyak anak yang sudah mengeluh agar kegiatan belajar-mengajar dibubarkan. Begitu juga sebagian besar guru yang kerap ‘mengiyakan’ keinginan anak-anak itu.

Siswa saat belajar di alam bebas. Foto: Nadia

Siswa saat belajar di alam bebas. Foto: Nadia

Guru Model adalah sebutan para pengajar dari gerakan Sekolah Guru Indonesia atas inisiasi Dompet Dhuafa. Mereka bertugas di pelosok-pelosok seperti Desa Kiwu, Kecamatan Kilo dan Desa Riwo, Kecamatan Woja untuk menciptakan perubahan yang lebih baik bagi masyarakat di sana, khususnya dalam bidang pendidikan. Mereka hadir untuk memperkenalkan berbagai metode pembelajaran yang lebih atraktif, interaktif, dan efektif bagi siswa. “Belajar tak hanya dapat dilakukan dengan duduk manis di kelas, tetapi juga di alam terbuka. Dengan begitu, anak dapat memperoleh pengetahuan yang lebih riil dan bisa menjadi pengalaman berharga bagi mereka,” ujar Ghina Sartika, Guru Model di SDN 18 Kilo, Kamis, 12 September 2013 lalu.

Guru Model tak hanya berperan sebagai pengajar, tok. Ia juga menjadi penjembatan bagi dunia luar dengan seluk-beluk budaya dan kemasyarakatan di desa tempatnya bertugas. Hal itulah yang ingin ditunjukkan program Lentera Indonesia, tayang di NET. tiap Sabtu dan Minggu pukul 17.00 Wib.

Tim NET. TV dan Guru asal Dompet Dhuafa. Foto: Nadia

Tim NET. TV dan Guru asal Dompet Dhuafa. Foto: Nadia

Tim liputan pun bertandang ke tanah ‘Nggahi Rawi Pahu’ khusus di dua desa tersebut untuk menyoroti wajah pendidikan, budaya, dan masyarakat di sana. Mereka banyak berinteraksi dengan warga sekitar khususnya para generasi muda sehingga memperoleh banyak pengalaman dan wawasan baru yang tak jarang menuai decak kagum.

Potret Desa Kiwu dan Riwo dapat disaksikan akhir September ini di NET. Info lebih lengkap, ikuti linimasanya di akun Twitter @LenteraID.

NET sendiri merupakan stasiun televisi nasional berjaringan yang diluncurkan 26 Mei 2013. Pendirinya adalah Mantan Direktur Utama News Trans TV Whisnutama dan Pendiri Indika Group Agus Lasmono. Meski baru berusia 3 bulan, banyak pihak yang memuji kualitas televisi ini karena semangatnya dalam membangun pendidikan bangsa. Berita NET bertujuan untuk menumbuhkan kesan bahwa Indonesia adalah negara yang berpotensi dan berprestasi.

Pemebelajaran siswa di ruang perpustakaan sekolah. Foto: Nadia

Pemebelajaran siswa di ruang perpustakaan sekolah. Foto: Nadia

Beragam tayangan NET juga  menumbuhkan semangat membangun bangsa di kalangan penontonnya. Sebagaimana kicauan dari akun Good News For Indonesia, “nonton berita & acara di NET TV, segar, positif, & menginspirasi. Semoga makin banyak TV2 nasional yang menginspirasi bangsa @netmediatama.”

Untuk informasi seputar program-program NET. kunjungi situsnya di netmedia.co.id atau simak kicauannya di linimasa @netmediatama. [BM]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *