Pemerintah Wajib Usut Kematian Tiga TKI Asal NTB

Mataram, Kahaba.-  Keinginan masyarakat Bumi Gora untuk merubah nasib kehidupan hingga menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) begitu massif adanya. Namun, sederet cerita duka tak lepas dari potret TKI asal NTB. Siksaan dan  hukuman dari majikan bahkan kematian pun menjadi kisah pilu yang selalu saja menghantam eksistensi para pahlawan devisa ini. Kali ini, berita duka kembali tersiar. Pasalnya, tiga nyawa melayang ketika TKI asal NTB bekerja di tanah Jiran, Malaysia.

Foto: koranberitaonline.com

Pemerintah Nusa Tenggara Barat (NTB) berniat mengusut kematian tiga orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Lombok Timur, NTB, di Malaysia akhir Maret lalu. Kematian tiga orang TKI itu masih menyisakan tanda tanya. Melalui surat yang disampaikan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, tidak menjelaskan secara rinci sebab kematian TKI NTB itu.

Anggota Komisi IV DPRD NTB, Suryadi Jaya Purnama, menegaskan, pemerintah harus tegas mengusut kasus ini agar tidak terulang kembali. Kasus kali ini pun dikatakan tak wajar dan menjadi perhatian bersama karena beberapa organ tubuh korban hilang.

”Dalam sidang paripurna DPRD NTB nanti, anggota DPRD dari Partai Keadilan Sejahtera ini, berjanji, akan mengungkapkan soal itu di hadapan kepala daerah,” ungkapnya, Kamis (19/4) lalu, seperti yang dilansir dalam situs buruhmigran.or.id.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB, H. Mokhlis, akan mengirim surat kepada KBRI untuk meminta penjelasalan tentang sebab kematian ketiga pekerja asal NTB itu.

Dijelaskannya, ketiga pekerja ini berangkat secara illegal ke Malaysia, setelah diketahui memiliki paspor wisatawan umum, bukan paspor bekerja. Ketiga pekerja itu pula ditemukan meninggal sehabis memancing di salah satu lokasi pemancingan.

Kondisi jenazah pun diketahui dalam kondisi memiliki jahitan di sekitar dada dan perut. Hingga dapat dipastikan ketiga jenazah ini telah kehilangan sejumlah organ tubuhnya.

Mereka yang telah diurus kepulangannya, antara lain, Mad Noor warga Dusun Gubuk Timuk, Desa Pengadangan, Pringgesela, serta Herman dan Abdul Kadir Jaelani, warga Pancor Kopang, Pringgasela Selatan. Ketiganya dinyatakan meninggal oleh salah satu rumah sakit di Malaysia Barat akibat tembakan berganda pada tanggal 24 Maret 2012 dan tiba di Bandara Internasional Lombok, Kamis 5 April lalu, untuk selanjutnya di makamkan di kampung masing-masing, ujar Mokhlis.

Dalam laporan yang sama, ketiga jenazah ditemukan meninggal di Kampung Tampin Kanan Linggi Port Dickson Negeri Sembilan, Malaysia. Secara terpisah, sumber RRI menyebutkan, Herman dan Abdul Kadir bekerja sebagai buruh di perusahaan kontraktor, sedang Mad Noor bekerja di perkebunan. Ketiganya memiliki surat-surat bekerja di tempat itu. [buruhmigran/BM]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *