Tingkatkan Mutu, Ekosistem Pendidikan Harus Dibangun

Mataram, Kahaba.- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia, Anies Rasyid Baswedan mengatakan, ikhtiar untuk mendidik bukan saja tanggungjawab pemerintah tetapi seluruh komponen.

Menteri Pendidikan Anies Baswedan

Menteri Pendidikan Anies Baswedan. Foto: Ady

Begitu pula rasa memiliki terhadap pendidikan itu bukan hanya ada pada Kementerian Pendidikan, Dinas Pendidikan maupun sekolah tetapi seluruh komponen.

“Karenanya, ke depan kita punya visi bukan saja membangun manusianya tetapi ekosistem pendidikan juga kita bangun,” kata Mendikbud pada kesempatan silaturrahmi dengan para Pengawas, Kepala Sekola dan Guru di Kantor LPMP Propinsi NTB, kemarin.

Menurut Mendikbud, dengan membangun ekosistem, maka ikhtiar untuk meningkatkan mutu pendidikan akan bisa dicapai. Namun, ketika kita hanya terfokus pada pembangunan insan pendidikan, maka pemerintah dan aparatur tidak akan bisa menciptakan ekosistem.

Dicontohkannya, selama ini, banyak buku yang terbit untuk referensi pendidikan. Hanya saja, antara penulis dan pengguna atau pembaca sama sekali tidak ada interaksi dan timbal balik. Ketika ada kekeliruan dalam penulisan, pembaca tidak tahu harus mengadu kemana.

Penulis dan penyusun buku juga terkadang tidak menyertakan identitas pendukung dan nomor kontak agar pembaca bisa beriteraksi tentang isi buku. Seperti memberikan masukan atau bertanya terkait pembahasan dalam buku supaya peningkatan mutu buku bisa diperbaiki.

“Kalau ada 150 guru saja yang memberikan feedback, maka sudah ada 150 masukan untuk perbaikan dan peningkatan mutu. Namun budaya itu belum terjadi dan itu berbeda dengan negara lain, karena di dunia pendidikan kita belum terbangun ekosistem,” paparnya.

Hampir semua buku di Indonesia kata Mendikbud, tidak ada ruang bagi pengguna untuk berinteraksi. Akibatnya, ketika ada kekeliruan penulisnya tidak mengetaui. Untuk itulah perlunya ada ekosistem sehingga semua komponen yang ingin meningkatkan pendidikan bisa berinteraksi.

“Unsur yang terlibat dalam ekosistem, misalnya di lingkungan sekolah bisa siapa saja yang peduli terhadap pendidikan. Bisa guru, kepala sekolah, pengawas dan orangtua siswa,” ujarnya.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *