Ferry Zulkarnaen Resmi Dinobatkan Jadi Sultan Bima

Kota Bima, Kahaba.-  Majelis Adat Sara Dana Mbojo pada Kamis (4/7/2013) pagi akhirnya melaksanakan penobatan dan pelantikan H. Ferry Zulkarnain ST sebagai Sultan Bima ke XVI. Bertempat di Istana Asi Mbojo, prosesi Tuha ro Lanti tersebut  disaksikan ribuan pasang mata termasuk sejumlah tamu undangan dari berbagai daerah di nusantara.

Prosesi Penobatan dan Pelantikan Sultan Bima ke 16

Prosesi Penobatan dan Pelantikan Sultan Bima ke 16. Foto: Khusnul Hatimah

Meski pro dan kontra dukungan atas pelantikan dan penobatan Jena Teke H. Ferry Zulkarnain ST sebagai sultan di Dana Mbojo, namun tak urung menghalangi prosesi penobatan yang dalam bahasa Bima disebut tuha ro lanti ini. Ancaman pemboikotan kegiatan seperti yang diutarakan oleh massa demonstran penolakan pelantikan sehari sebelumnya pun tidak terbukti. Dibawah pengawalan ketat aparat gabungan Kepolisian Resort Bima Kota dan tambahan personil pengamanan dari Kodim dan Pol-PP setempat acara yang juga merupakan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Bima ini berjalan lancar.

Ketua Majelis Adat Sara Dana Mbojo Dr. Hj. Siti Maryam, SH dalam pidato penyambutannya mengungkapkan, prosesi tuha ro lanti yang diselenggarakan hari ini merupakan sebuah momen sejarah yang sangat berharga bagi perjalanan Dana Mbojo dan Kesultanan Bima secara khusus. Setelah lebih dari seabad daerah di timur Pulau Sumbawa ini tak pernah menggelar perhelatan serupa, hari ini dirinya bersyukur karena amanat sejarah dan budaya itu terlaksana juga.

“Kami bersyukur karena  pada hari ini kami bisa menobatkan Saudara Ferry Zulkarnaen putra Sultan Abdul Kahir II sebagai Sultan Bima yang ke 16,” kata filolog alumnus Universitas Pajajaran yang akrab disapa Ina ka’u Mari ini.

Penobatan Sultan Bima atau Tuha ro Lanti merupakan prosesi adat yang telah turun temurun diselenggarakan sejak abad ke 15 silam, dimana pada waktu itu pada waktu itu Dana Mbojo masih belum menganut agama islam. Prosesi ini dikatakan Maryam merupakan simbolisasi penunjukkan pemimpin pertama kerajaan dahulu yang dipilih langsung  oleh Dou Mbojo melalui perwakilan masyarakat yang mendiami sejumlah wilayah yang disebut dengan Ncuhi.

Seiring transformasi pola pemerintahan dari Kesultanan menjadi NKRI, prosesi ini sempat terlupakan selama lebih dari satu abad lamanya. Upacara penobatan sultan terakhir kalinya dihelat di tanah Bima pada tahun 1917 untuk mengangkat sultan Muhammad Salahuddin.

Menurut Ina Ka’u Mari, tradisi ini kemudian digali dan dihidupkan kembali atas desakan masyarakat yang menilai kehidupan kemasyarakatan di Bima semakin tercerai dengan akar budayanya yang bernilai luhur.  Banyak falsafah kearifan lokal dalam prosesi adat ini yang bisa dijadikan semangat perubahan Dana Mbojo dalam mewujudkan kehidupan sosial masyarakat yang lebih baik, tentram, serta dapat menuntun kehidupan berbangsa, bernegara serta bermasyarakat yang baik lagi. [BQ]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. rizki aldila

    Ini apa tujuannya ? apakah bupati ferry memang pantas mendapatkan gelar ini?
    aapakah benar in hanya sebuah gelar bayaran? dia harus buktikan dulu kalo memang dia pantas menjadi sultan, kita warga bima masih kelaparan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *