Bahan Baku Mahal, Kadodo Wera Bertahan

Kabupaten Bima, Kahaba.- Desa Nunggi Kecamatan Wera telah lama dikenal sebagai sentra makanan tradisional dodol beras di Kabupaten Bima. Hingga kini, jajanan tersebut masih diminati masyarakat. Hanya saja, belakangan ini geliat pembuatan jajanan khas tersebut terkendala dengan mahalnya bahan baku di pasaran.

Untuk membuat dodol, warga Desa Nunggi Kecamatan Wera menghabiskan waktu selama 12 jam.

Untuk membuat dodol, warga Desa Nunggi Kecamatan Wera menghabiskan waktu selama 12 jam. Foto: Arief

Seperti yang dituturkan M. Tayeb Ama Fudi (56 tahun), salah seorang pembuat dodol di Desa Nunggi mengaku untuk membuat dodol dengan ukuran satu wajan besar, masyarakat setempat harus merogoh kocek dalam-dalam. “Satu kali pembuatan kadodo wera (dodol,red) setidaknya dibutuhkan setidaknya 20 liter beras ketan, 150 buah gula merah, dan 5 butir kelapa,” sebutnya saat ditemui Kahaba, Kamis 22 Agustus 2013.

Ia mengaku, Belakangan ini biaya untuk membuat satu wajan besar dodol untuk hajatan mencapai Rp 3 juta. Pasalnya, harga gula merah (aren) yang wajib digunakan sebagai bahan utama tidak murah di pasaran. “Kami pun secara khusus mendatangkan gula merah dari daratan Sumba NTT dan dapat pula dibeli di Desa Sangiang dengan harga lebih mahal,” tambah pria yang biasa disapa Ama Fudi itu.

Menurutnya, untuk menghasilkan dodol siap saji, prosesnya pun tidak mudah. Semua bahan tersebut dimasak dengan menggunakan tungku khusus dari tanah dan wajan harus diaduk secara terus menerus selama 12 jam. Karena beratnya pekerjaan, biasanya dibutuhkan empat hingga enam orang pria dewasa yang bekerja secara bergantian mengaduk adonan bahan hingga berubah menjadi pasta berwarna kecoklatan.  “Dari satu wajan besar ini, nanti akan menghasilkan 40 hingga 50 loyang dodol,” ujarnya.

Mahalnya biaya bahan baku, lanjutnya, praktis pembuatan dodol tradisional hanya dilakukan apabila ada hajatan masyarakat saja. Seperti kegiatan pesta pernikahan, kematian atau acara lainnya, warga Nunggi biasanya membuat dua hingga empat wajan dodol secara bergotong-royong.

Kendati mahal, Ama Fudi dan pembuat dodol lainnya mengungkapkan tradisi penyajian makanan khas ini harus terus dilaksanakan pada setiap hajatan masyarakat. Karena sejak dulu kala secara turun temurun Desa Nunggi sudah dikenal sebagai sentra dodol tradisional terbaik di Kabupaten Bima. “Aneh saja, kalau tiba-tiba ada hajatan tidak ada dodol yang tersaji untuk tamu, gara-gara harga bahan yang mahal. Gengsi kami dipertaruhkan disini,” pungkas Ama Fudi sembari tersenyum. [BQ]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Achmad Usman

    Meski saya sudah 36 tahu berada di Jawa,(Surabaya), namun saya tetap ingat akan makanan khas tradisional di Desa saya Nunggi- Wera. Saya salut pada Kahaba Com atas dimuatnya artikel ini. Jika diijinkan akan saya muat pada tabloid Warta Bima Surabaya edisi Nov ini dimana pemimpin umumnya adalah saya sendiri. Warta Bima merupakan tabloid milik dan diterbitkan Ikatan Keluarga & Mahasiswa Bima Gerbangkertosusila yang kebetulan saat ini saya menjadi Ketua Umumnya. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *