Raja Gowa dan Permaisuri Ternate Puji FKN Bima

Kabupaten Bima, Kahaba.- Keraton dan kerajaan merupakan identitas dan sumber kebudayaan, keberadaannya tentu telah melahirkan banyak karya seni luhur. Sebagai cerminan identitas budaya bangsa, FKN diselenggarakan bertujuan melestarikan warisan seni budaya yang ada di seluruh nusantara.

Permaisuri Sultan Ternate Ke-48, Boqi Ratu Nita Budi Susanti. Foto: Bin

Permaisuri Sultan Ternate Ke-48, Boqi Ratu Nita Budi Susanti. Foto: Bin

Bima yang menjadi tempat penyelenggaraan Festival Keraton Nusantara (FKN) ke IX Tahun 2014 di Bima, mendapat pujian dari para tamu undangan. Kegiatan tersebut dianggap hal yang luar biasa, baik partisipasi masyarakatnya, maupun penyelenggara dan Pemerintah Kabupaten dan Kota Bima.

Disela – sela Welcome Dinner, Sabtu (6/9), Raja Gowa ke 37, Karaeng Lembangparang Andi Kumala Ijo kepada pekerja media memuji pelaksanaan FKN di Bima. “Kami sangat bangga dan bahagia bisa hadir pada FKN kali ini. Penyelenggaraan yang luar biasa,” ujarnya.

Kata dia, FKN yang merupakan suatu cita cita dan kebulatan tekad untuk bersama sama terus melestarikan adat budaya di Nusantara, nampak terlihat di Bima. Terbukti dari dukungan masyarakat dan pemerintah yang cukup. “Kami memberikan apresiasi kepada Bima yang telah menyambut hangat dan menjadi tuan rumah yang baik,” katanya.

Pada FKN ini, lanjut dia, pihaknya akan mendorong agar kegiatan dua tahun sekali tersebut menjadi event nasional, karena sejak dulu kegiatan FKN tidak masuk dalam kalender nasional.

“Harapan kami, ini tidak hanya masuk dalam kalender nasional, bila perlu pemerintah pusat membentuk kementrian khusus kebudayaan, agar simpul – simpul budaya bisa semakin fokus dilestarikan,” sarannya.

Raja Goa ke 37, Karaeng Lembangparang Andi Kumala Ijo. Foto: Bin

Raja Goa ke 37, Karaeng Lembangparang Andi Kumala Ijo. Foto: Bin

Sementara itu, Permaisuri Sultan Ternate Ke-48, Boqi Ratu Nita Budi Susanti mengaku sangat terkesan dengan penyelenggaraan FKN di Bima. Antusias masyarakat yang sangat luar biasa, menunjukan acara tersebut berjalan dengan sukses.

“Peran Pemerintah Daerah untuk menjaga dan melestarikan adat istiadat disini juga sangat luar biasa. Baik Bupati, Walikota maupun Gubernur,” tuturnya.

Ia juga sangat memberikan apresiasi untuk Ketua Majelis Adat Sara Dana Mbojo Dr. Hj. St. Maryam, SH, yang pada semua even-even nasional budaya serta adat digelar, selalu hadir dan berpartisipasi.

“Ini menunjukan bahwa beliau memang pejuang adat yang sangat luar biasa. Saya juga menghimbau kepada masyarakat Bima agar bisa menjaga kelestarian adat dan budaya disini,” harapnya.

Dirinya mengakui, jika Bima memiliki hubungan yang sangat erat dengan kesultanan Ternate. Hal itu juga terlihat pada lambang Kesultanan Ternate yang sama dengan lambang Kesultanan Bima dengan burung berkepala dua.

Kemudian, yang membuatnya kaget, Sultan Ternate yang ke 47, Sultan Muhammad Zabir Syah fotonya ada di Bima. Dan ketika beliau pertama kali dilantik sebagai Menteri RIS, tugas pertamanya adalah di Bima.

“Kedekatan hubungan emosional dan sejarah antara Bima dan Ternate ini memang terjalin sejak dari dulu. Hanya saja Ini harus digali kembali oleh para kritikus sejarah untuk mengetahui akar kebersamaan ini,” pintanya.

*Bin/Erde

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *