Lomba Kareku Kandei, Meriahkan FKN

Kabupaten Bima, Kahaba.- Perhelatan akbar, Festival Keraton Nusantara (FKN) IX yang digelar dari Tanggal 6 hingga 9 September ikut dimeriahkan dengan berbagai lomba. Satu diantaranya yakni lomba Kareku Kandei. Lomba tersebut digelar di halaman Museum ASI Mbojo, Senin (8/9).

Lomba Kareku Kandei pada FKN Bima. Foto: Bin

Lomba Kareku Kandei pada FKN Bima. Foto: Bin

Diikuti perwakilan semua Kecamatan di Kabupaten Bima. Kareku kandei atau dalam bahasa Indonesia memukul lesung merupakan salah satu budaya yang pernah tren dimasyarakat Bima tempo dulu.

Budaya ini menjadi alat pemersatu karena ketika sekelompok masyarakat memukul lesung dengan irama yang khas maka masyarakat yang lain akan berdatangan, kalau jaman sekarang semacam undangan.

“Kita ingin memperkenalkan kepada para tamu bahwa Kareku Kandei merupakan budaya kita dulu, meski sekarang keberadaannya mulai sirna,” kata Panitia Kegiatan, Abdul Haris, S.Sos kepada wartawan.

Haris mengakui, Kareku Kandei dari waktu kewaktu meredup bahkan hilang sama sekali. Kalaupun kembali dilakukan esensinya bukan lagi merupakan undangan tetapi karena even-even tertentu baik dalam memperingati budaya-budaya maupun even-even yang dilombakan.

Hilangnya budaya kareku kandei ini katanya, karena munculnya lesung sebagai alat penumpuk pagi ini juga ikut hilang, diganti mesin-mesin penggiling yang modern. Selain itu, munculnya tren-tren baru yang dianggap modern. Bila mengadakan hajatan cukup dengan mengedarkan undangan.

Karenanya menurut Haris, lomba Kareku Kandei yang digelar juga bertujuan sebagai upaya pelestarian budaya, agar tetap dikenang. Lomba melibatkan perwakilan semua Kecamatan di Kabupaten Bima.

Namun, untuk sementara peserta yang mendaftar dan mengikuti lomba baru delapan Kecamatan. Yakni Kecamatan Soromandi, Woha, Wawo, Madapangga, Ambawali, Wera dan Parado.

“Kecamatan lainnya sebagian sudah mengonfirmasi untuk hadir. Kita harapkan 18 kecamatan bisa ikut untuk memeriahkan FKN ini,” ujar Haris yang juga Kepala Bidang Kebudayaan, Didbudpar Kabupaten Bima ini.

Kriteria yang dinilai dalam lomba jelasnya, yakni Wirasa yang berarti penjiwaan para peserta, Wiraga yang berarti penampilan para peserta, seperti pakaian dan kekompakan, serta Wirama yang berarti kesesuaian irama musik yang dihasilkan saat Kareku Kandei.

“Bagi pemenang lomba, akan mendapatkan hadiah uang pembinaan. Juara satu Rp 3 juta, juara dua Rp 2,5 juta, juara tiga Rp 2 juta dan harapan satu Rp 1,5 juta,” sebutnya.

*Erde/Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *