Mpa’a Manca, Masih Dilestarikan di Wawo

Kabupaten Bima, Kahaba.- Kecamatan Wawo memang memiliki sejumlah tradisi dan budaya yang masih terpelihara hingga saat ini. Tradisi itu menjadi kekayaan tidak ternilai bagi Kabupaten Bima.

Mpa'a Manca saat kegiatan Khitanan  salah satu warga Wawo. Foto: Bin

Mpa’a Manca saat kegiatan Khitanan salah satu warga Wawo. Foto: Bin

Selain dikenal dengan Uma Lengge dan tradisi Ntumbu Tuta, Kecamatan Wawo juga masih melestarikan tradisi Mpa’a Manca. Tradisi ini, merupakan atraksi permainan pedang yang dikombinasikan dengan seni bela diri Pencak Silat. Biasanya, atraksi ini selalu ditampilkan pada saat prosesi sunatan.

Menurut masyarakat setempat, Mpa’a Manca merupakan tradisi warisan sejak era Kesultanan di Bima. Awalnya atraksi ini sebenarnya dimainkan perempuan. Namun seiring dengan perkembangan zaman, Mpa’a Manca perlahan mulai dimainkan laki-laki karena alasan tingkat kesulitannya perlu latihan khusus.

“Dilihat dari namanya, Mpa’a Manca dulunya memang dimainkan perempuan. Tapi karena atraksi ini dikolaborasikan dengan seni bela diri, makanya memerlukan tenaga dan fisik yang kuat,” kata Samsudin, warga Desa Maria.

Peralatan yang dibutuhkan untuk Mpa’a Manca, yakni dua buah pedang karena dimainkan dengan berpasangan dan pasapu monca agar atraksi terlihat menarik. Selain itu, atraksi harus diiringi dengan musik tradisional dari gendang dan suling hingga usai.

Mpa'a Manca saat kegiatan Khitanan  salah satu warga Wawo. Foto: Bin

Mpa’a Manca saat kegiatan Khitanan salah satu warga Wawo. Foto: Bin

“Tradisi ini wajib dilakukan masyarakat di Wawo saat sunatan. Menurut keyakinan kita, sehari sebelum main didahulukan sesaji dari nasi santan, pisang, kue sinci dan dodol. Lalu kita baca do’a untuk memperlancar acara,” tutur Samsudin.

Para pemain pun tidak sembarang. Harus yang terlatih dan memiliki keahlian khusus. Bahkan sebelum turun, ada ritual penerawangan menggunakan api lilin. Ritual ini untuk mendapatkan petunjuk atraksi yang dilakukan terhindar dari bahaya dan cidera.

“Namun saat ini kita yang tua sudah tidak kesulitan karena sudah banyak generasi baru yang mewariskan keahlian tersebut,” ujar Assalam, lelaki berusia 61 tahun asal Desa Maria.

Assalam mengaku, Mpa’a Manca memang tradisi turun temurun yang harus tetap dilestarikan. Pemerintah Daerah juga diakui memberikan perhatian dalam upaya pelestarian sejumlah tradisi dan budaya di Wawo. Itu terbukti, Ia dan rekan-rekannya kerap diundang dalam berbagai kegiatan Pemerintah untuk menampilkan atraksi tersebut.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *