Babuju Adakan Ritual Do’a Dana di 15 Titik 

Kota Bima, Kahaba.- Babuju Care Center menfasilitasi pelaksanaan ritual do’a dana di 15 titik lokasi berbeda di Kota Bima. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meminta keselamatan dan terhindar dari segala bencana kepada Sang Khalik.

Do’a dana yang digelar untuk menolak bala pasca bencana banjir. Foto, Ady

Koordinator Babuju, Julhaedin mengatakan, ritual do’a dana diadakan selama tiga hari dan telah dimulai pada Sabtu (7/1) kemarin. Pada hari pertama telah dilaksanakan serentak di dua titik di Kelurahan Dara, Tolobali, Lewisape dan Kampung Sumbawa.

Sementara pada Minggu (8/1) akan dilaksanakan di tujuh titik baik pagi maupun sore hari. Diantaranya di Salama ele, Salama Kampo Tolo, Penaraga, Dara do, Lewisape, dan Gilipanda.

“Ritual do’a dana ini merupakan warisan budaya Dou Mbojo yang hampir ditinggalkan. Tujuannya adalah untuk menolak bala (musibah),” jelas Rangga Babuju (sapaan Julhaedin), Minggu (8/1) pagi.

Diakuinya, peserta do’a dana diikuti oleh anak-anak. Prosesi ritualnya dimulai dari mengumpulkan anak-anak di satu tempat. Kemudian melaksanakan do’a bersama yang dipimpin tokoh agama. Dilanjutkan dengan makan nasi bubur (ngaha karedo) secara berkelompok.

Makan nasi bubur lalu diakhiri dengan pembagian uang senilai Rp1000 hingga Rp2000 kepada anak-anak. Jadi menurut Rangga, do’a dana bisa diartikan semacam trauma healing bagi anak-anak korban banjir. Karena bertujuan juga untuk membangkitkan kembalj keceriaan anak-anak pasca bencana.

“Ritual do’a dana ini sendiri sebenarnya sudah dilaksanakan masyarakat Bima sejak masa dulu untuk menolak bala bagi kampung, lingkungan maupun daerah,” tuturnya.

Rangga menambahkan, semua biaya do’a dana berasal dari donasi kemanusiaan untuk korban banjir Bima yang masuk melalui rekening Relawan Babuju.

*Kahaba-03

 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *