Sangiang Dikunjungi Bule Tiap Hari, Pemkab Bima Kemana?

Kabupaten Bima, Kahaba.- Sejumlah spot wisata baru yang tersembunyi di Kabupaten Bima belakangan terus bermunculan menyedot perhatian wisatawan lokal dan mancanegara. Salah satunya, Pulau Sangiang Api dan Desa Sangiang Kecamatan Wera yang kini menjadi kampung wisata favorit para Bule (wisatawan mancanegara).

Turis Mancanegara saat berkunjung ke Desa Sangiang 3. Foto, Ayang Syaifullah.

Hampir setiap hari Bule dari berbagai negara bertamu di Pulau Sangiang Api dan Desa Sangiang menggunakan kapal pesiar. Seiring dengan perkembangan teknologi, lokasi wisata ini makin dikenal luas karena informasi yang tersebar di media sosial.

Tokoh Pemuda Wera, Ayang Syaifullah menuturkan, sejak sektor pariwisata mulai berkembang di Indonesia, saat itu pula sebenarnya Sangiang sudah dikenal luas hingga ke mancanegara. Hanya saja, dulu belum ada media sosial sehingga informasi kedatangan wisatawan tidak tersebar.

“Biasanya dalam seminggu itu ada 3 hingga 4 kapal pesiar yang singgah di Desa Sangiang. Beda lagi kalau di Pulau Sangeang Api, disana malah hampir tiap hari mereka berkunjung untuk wisata Snorkeling, Diving dan Adventure,” jelas Ayang Syaifullah kepada media ini.

Namun ironis kata dia, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima seolah tutup mata terhadap apa yang terjadi di Gunung Sangeang Api saat ini. Gunung yang punya potensi luar biasa tetapi masih saja dianggap biasa.

Menurutnya, tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah daerah dalam pengelolaan Sangiang sebagai lokasi wisata yang menjanjikan. Wisatawan mancanegara kerap pulang dengan kecewa lantaran fasilitas penunjang tidak ada. Mereka tak betah berlama-lama, karena tak ada yang membuat mereka bertahan.

Di gunung tutur Ipul sapaan akrabnya, malah tidak ada fasilitas sama sekali. Saking tidak adanya fasilitas, pernah beberapa tahun yang lalu para Bule mengumpulkan uang sendiri untuk membangun baruga disana sebagai tempat berteduh dan santai, tetapi sekarang sudah rusak.

“Kan malu kita, masa sih Bule yang butuh fasilitas tapi kita tidak menyiapkannya,” kata dia.

Turis Mancanegara saat berkunjung ke Desa Sangiang. Foto, Ayang Syaifullah

Ipul sebenarnya putus asa melihat kondisi Sangiang selama ini. Dirinya bekerja ikhlas dan tidak mengharapkan sepeserpun untuk membantu mempromosikan Sangiang.

“Yang penting ketika mereka datang, ibu-ibu penjual sarung bisa bertransaksi dengan Bule. Kan lumayan asap dapur mengepul lagi,” ujarnya.

Disisi lain, Ipul merasa heran dengan pemerintah dearah yang masih ngotot untuk berebutan wilayah Gunung Tambora dengan Kabupaten Dompu. Padahal jelas-jelas Tambora itu sudah dianeksasi oleh Dompu untuk promosi pariwisatanya. Sementara Bima malah dapat “ecek-ecek”.

Yang lebih memprihatinkan lagi sambungnya, Gunung Sangeang Api selalu digunakan oleh Pulau Komodo Kabupaten Manggarai Barat NTT untuk promosi pariwisatanya. Padahal wilayahnya masuk Kabupaten Bima.  “Kan sangat miris kita. Pertanyaannya? Ini mau sampai kapan?,” tanya Ipul heran.

Bukti kunjungan wisatawan mancanegara di Sangiang selalu diunggah Ipul di laman Facebook-nya dengan akun Ayang Syaifullah. Seperti Senin (26/6) siang tadi, Ipul menginformasi kedatangan Kapal Pesiar Star Ship berbendera Malta (Negara Kecil di Benua Eropa).

Kapal turis ini singgah di Sangiang usai berkunjung ke Pulau Komodo. Jumlah penumpang sekitar 400 hingga 500 orang dari berbagai negara di Benua Eropa. Rencananya sekitar 300-an tamu turun menikmati Sangiang. Namun karena fasilitas penunjang berupa Dermaga Rakyat belum mendukung maka yang turun sekitar 65 orang saja.

“Saya berusaha meyakinkan Piter, Internasional Guide-nya bahwa dermaga sangat layak untuk tempat bongkar penumpang tetapi Piter bersikeras bahwa kenyamanan dan keamanan adalah prioritas utama kami. Yah begitulah,” tulis Ipul dalam statusnya yang dilampiri foto-foto para turis.

Disela-sela kunjungan keliling tulis Ipul melanjutkan, Piter menyoroti dan menyayangkan fasilitas dermaga yang tidak layak. Kebersihan pantai yang masih amburadul, tidak adanya galeri penjualan cendera mata tradisional dan fasilitas kesenian tradisional untuk menyambut tamu.

Ipul kemudian menulis dalam Bahasa Inggris penyampaian Piter. “Your Beach Is Very Nice, Very Beautiful beach, The people very Friendly, The Village is very Unique but The Rubish make it Stupid. I don’t know Why your Government not think not response about It. It’s Bussines man, It’s Money, It’s Chance” kata Piter bertubi-tubi pada Ipul.

“Rasa-rasanya makjleb sekali Piter punya Omong… Ckckckckck (kau mau ngomong Apa juga, berbusa-busa disitu, saya nggak paham Piter),” sahut Ipul meneruskan tulisannya.

“Yah seperti itulah. Ketika spot wisata lain kebanjiran tamu-tamu Lokal kami malah “kebanjiran semprotan” dari Si Piter (Emang Enak ????),” kata Ipul menyayangkan.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *