Pesona Air Terjun Bidadari, Spot Wisata Menakjubkan di Kaki Gunung Tambora

Kabupaten Bima, Kahaba.- Memiliki hamparan alam yang luas, di kelilingi laut dan wilayah pegunungan, membuat Kabupaten Bima punya pemandangan yang sangat eksotik. Banyak tempat-tempat menarik yang masih alami untuk tujuan spot wisata alam, tetapi selama ini belum terkelola dan terpublikasi dengan baik.

Air terjun Bidadari di Desa Kawinda Toi Tambora. Foto: Ady

Salah satunya spot wisata alam air terjun. Memang belum banyak yang tahu, Kabupaten Bima memiliki spot wisata air terjun menakjubkan. Bahkan pesona dan keindahan air terjun di Bima tak kalah dengan spot wisata air terjun daerah lain.

Tak hanya keindahan Air Terjun Riamau Kecamatan Wawo yang mulai memikat hati pengunjung, Kabupaten Bima juga memiliki Air Terjun Bidadari yang keindahannya memanjakan mata para pengunjung.

Air Terjun Bidadari atau dikenal pula dengan Air Terjun Oi Marai terletak di Kaki Gunung Tambora Desa Kawinda To’i Kecamatan Tambora. Air terjun ini masuk di kawasan Taman Nasional Tambora. Bicara soal keindahannya, Air Terjun Bidadari sangat sempurna dan mempesona.

Ketinggiannya diperkirakan mencapai 25 meter, memiliki debit air sangat besar dan di bawahnya mengalirkan air sungai hingga ke permukiman masyarakat Desa Kawinda To’i dan Desa Oi Katupa. Dari air terjun ini pula, masyarakat beberapa desa menggantungkan hidup untuk irigasi pertanian, perkebunan dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Air Terjun Bidadari diapit perbukitan, disisi kiri dan kanan penuh dengan pepohonan rindang. Sehingga di musim kemarau sekalipun, pengunjung akan selalu merasa sejuk. Bagian atas air terjun masuk kawasan hutan lindung dan konservasi. Keindahannya semakin sempurna karena struktur air terjun dihiasi tebing dan bebatuan yang menambah pesona bagi siapapun yang memandang.

Tidak Pernah Kering Meski Musim Kemarau

Selain pesonanya yang menakjubkan, Air Terjun Bidadari tidak pernah kering dan kurang debit airnya walaupun musim kemarau. Menurut Kepala Dusun Kawinda Toi Abdul Haris, sungai yang bersumber dari Air Terjun Bidadari selalu mengalir sepanjang tahun. Manfaatnya sangat dirasakan masyarakat beberapa desa di bawahnya karena tidak pernah kesulitan air.

Air terjun Bidadari di Desa Kawinda Toi Tambora. Foto: Ady

“Sepanjang tahun airnya tetap mengalir, tidak pernah kering dan berkurang debitnya airnya selama ini,” kata Abdul Haris.

Keberadaan Air Terjun Bidadari menjadi anugerah bagi masyarakat yang mendiami Kaki Gunung Tambora. Walaupun sebagian desa lainnya mimiliki kondisi tanah yang tandus, tetapi Desa Kawinda Toi sangat subur karena dialiri air yang melimpah. Pipa yang tersambung ke areal perkebunan hingga ke perkumiman masyarakat selalu mengalirkan air.

“Air sungai yang bersumber dari air terjun setiap hari digunakan warga untuk kebutuhan minum, mandi dan semua keperluan lainnya. Kita tidak pernah kesulitan sama sekali,” ujarnya.

Hanya saja diakuinya, pengelolaan Air Terjun Bidadari untuk tujuan wisata memang belum maksimal dilakukan. Pengunjung masih sedikit dan terbatas masyarakat lokal saja karena lokasinya belum banyak diketahui. Ada banyak kendala yang dirasakan pemerintah desa sehingga promosi air terjun belum begitu meluas.

Seperti akses jaringan telekomunikasi dan internet, jarak lokasi air terjun yang cukup jauh dan keterbatasan anggaran untuk menatanya. Wajar saja, panorama alam di sekitar Air Terjun Bidadari masih sangat alami karena belum banyak disentuh sarana pendukung.

Butuh Perbaikan Jalan Menuju Air Terjun

Untuk sampai ke Air Terjun Bidadari memang tidak mudah. Butuh stamina dan persiapan fisik yang prima karena jaraknya yang terbilang cukup jauh. Dari Kota Bima, jaraknya bisa mencapai puluhan kilometer. Pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar 4 sampai 5 jam menggunakan mobil untuk sampai ke lokasi air terjun, jika memilih jalur lingkar utara Kota Bima-Dompu-Sanggar-Kawinda Toi.

Jalur menuju air terjun Bidadari. Foto: Ady

Namun, sepanjang perjalanan kita tidak akan jenuh karena disuguhkan dengan pemandangan indah. Banyak spot atau tempat-tempat menarik yang dilalui. Mulai dari Enca Kilo, Rade Na’e kuburan peninggalan Kerajaan Sanggar dampak letusan Gunung Tambora, Pantai Boro, Benteng Sanggar, Mata Air Tampuro dan panorama alam yang hijau tentunya.

Apabila memilih jalur Kota Bima-Dompu-Pekat-Labuan Kananga-Kawinda Toi waktu tempuh relatif lebih lama sekitar 5 sampai 6 jam perjalanan darat karena perjalanannya memutar ke lingkar selatan. Meski begitu, tempat-tempat menarik yang dilalui juga tak kalah mengasyikan.

Hanya saja memang kondisi jalan saat mulai memasuki Desa Taloko Kecamatan Sanggar tidak begitu bagus. Selain berkerikil, juga banyak berlubang sehingga dibutuhkan kehati-hatian. Memasuki Desa Piong, wilayah terakhir Kecamatan Sanggar kondisi jalan sebagian sudah diaspal melewati Desa Oi Katupa. Infraktruktur jembatan masih dalam tahap pembangunan. Persiapan material pengaspalan jalan juga mulai terlihat untuk menyambut Festival Tambora Menyapa Dunia bulan April mendatang.

Menuju ke lokasi air terjun, pengunjung masih harus menempuh perjalanan sekitar 1 kilometer dari jalan utama. Tetapi jangan kuatir, jalan masih bisa dilalui mobil kendati harus ekstra hati-hati karena jalanan cukup terjal dan sempit. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 300 meter ke atas air terjun karena mobil hanya bisa diparkir di bawah.

Fasilitas Wisata Masih Minim   

Selain kondisi jalan yang rusak menjadi kendala menuju air terjun, ketersediaan fasilitas wisata memang masih minim. Di sekitar lokasi sebelum mendaki ke lokasi, hanya tersedia satu bangunan baruga untuk tempat istrahat, papan informasi jalur pendakian Gunung Tambora yang dipasang Taman Nasional Gunung Tambora.

Salah satu fasilitas sebelum menuju air terjun Bidadari. Foto: Ady

Namun beruntung, sepanjang perjalanan kaki ke air terjun pengunjung cukup terbantu dengan penataan yang dilakukan Komunitas Pencinta Alam (KPA) Al Gura Tambora. Mereka membuat tulisan dan informasi yang kreatif menggunakan papan kayu untuk memudahkan pengunjung.

Informasi dari pemerintah desa setempat, KPA Al Gura bermitra dengan desa untuk menata dan mengelola Air Terjun Bidadari sejak setahun terakhir meskipun masih sangat terbatas.

Retribusi bagi pengunjung juga belum ada, kecuali pada hari-hari tertentu informasinya ada warga yang menjaga lokasi. Sehingga saat ini siapapun yang ingin menikmati Air Terjun Bidadari masih belum dibebankan biaya masuk alias gratis.

Kepala Dusun Kawinda Toi Abdul Haris berharap, untuk menata lokasi Air Terjun Bidadari menjadi tempat wisata yang menarik memang butuh intervensi dari pemerintah daerah.

“Saya yakin, bila dikelola dengan baik Air Terjun Bidadari akan menjadi tempat wisata unggulan Kecamatan Tambora, bahkan Kabupaten Bima,” ujarnya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *