Paguyuban TNI-Polri Sasak Antraksi Gendang Beleq Saat Pawai HUT Bima

Kabupaten bima, Kahaba.- Kemeriahan pawai budaya menyambut Hari Jadi Bima ke-378 ikut dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Anggota TNI dari Kodim 1608 Bima dan Polri Polres Bima tak ketinggalan ambil bagian menjadi peserta pawai yang dipusatkan di Kecamatan Bolo, Rabu (4/7) siang.

Atraksi Gendang Beleq Paguyuban TNI-Polri Sasak Saat Pawai Budaya di Bolo. Foto: Deno

Anggota TNI dan Polri ini berasal dari Paguyuban Suku Sasak. Mereka kompak menggunakan pakain khas Sasak dan seragam TNI-Polri sambil memperlihatkan atraksi Gendang Beleq budaya khas Sasak di depan panggung utama.

Pantauan media ini, rombongan peserta TNI dan Polri tergabung pria dan wanita yang dipimpin Ketua Paguyuban. Mereka datang dari arah timur Kecamatan Bolo tempat star dan mulai menunjukan antraksi Gendang Beleq. Di tangan mereka juga membawa kue tar yang ditancapkan lilin bertuliskan HUT Bima ke-378 dan HUT Bhayangkara ke-72.

Saat berada depan panggung utama, Ketua Paguyuban Brigadir Ovan Ramli memimpin regunya memperagakan antraksi budaya Gandeng Beleq. Antraksi tersebut cukup ektream dan mendapat perhatian dari para penonton.

Bupati Bima, Wakil Bupati Bima, Kapolres Bima, Dandim Kodim 1608, Ketua DPRD Kabupaten Bima, Kepala Kejaksaan Negeri Bima, Sekda kabupaten bima dan Anggota DPRD nampak terkesima melihat atraksi luar biasa tersebut.

Kapolres Bima AKBP Bagus Satryo Wibowo mengatakan, sebelum pawai dilaksanakan, peserta dari Paguyuban Sasak tersebut sudah mempersiapkan diri selama 2 minggu berlatih antraksi khusus untuk pawai HUT Bima.

“Gandeng Beleq merupakan budaya asli dari Suku Sasak. Semoga saja antraksinya dapat menghibur masyarakat Bima dan lebih-lebih budaya ini bisa dikenal secara meluas oleh masyarakat Indonesia,” harap Kapolres.

*Kahaba-05

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *