Anang Yuank Cafe, Usaha Bermodalkan Rp 200 Ribu

Jendela Usaha, Kahaba.- Jika anda baru saja berkunjung ke Bima setelah beberapa tahun berada di luar daerah, anda mungkin akan sedikit terkejut dengan perbedaan yang terjadi di Kota kecil ini. Perubahan bukan hanya pada aspek fisik semata, dinamika masyarakat Bima yang semakin kencang dengan pola kehidupan urban semakin mengental. Pola pikir masyarakat tidak melulu berkutat pada bagaimana cara memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, tetapi lebih dari itu faktor hiburan dan rekreasi menjadi aspek penting yang diperhitungkan oleh masyarakat. Tempat-tempat yang menawarkan kenyamanan dan kesenangan masyarakat untuk melepas penat setelah lelah seharian bekerja tumbuh bak cendawan dimusim hujan. Salah satunya adalah fenomena warung kopi (cafe) yang dulu hanya terdapat di kota-kota besar namun kini memiki ruang tersendiri di kota yang baru saja genap berumur satu dasawarsa ini.

anang yuank

Diantara banyak pengusaha cafe di Kota Bima, Anang Zainy yang mengelola usaha Yuank Cafe & Coffee Shop yang terletak di bilangan Gunung Dua – Raba bisa dikatakan sukses mengelola usahanya sehingga warung kopi yang dia rintis mendapatkan tempat tersendiri bagi penikmat kopi di Bima. Tapi tahukah anda, Yuank cafe yang hampir setiap hari ramai dukunjungi pelanggan ini memulai usahanya dengan modal awal Rp. 200.000 saja? Kepada Kahaba, pengusaha muda yang biasa disapa Mas Anang ini tak sungkan membagi cerita suksesnya.

Anang mengaku dasar-dasar wirausahanya dia tanamkan semenjak bangku kuliah. Jebolan Teknik Kimia UGM ini sudah menekuni usaha kecil-kecilan sejak menyandang status mahasiswa dengan merintis perusahaan pengolah minyak astiri untuk dipasok ke perusahaan-perusahaan kosmetika besar. “Dulu saya dan teman-teman membuat perusahaan sendiri sebagai salah satu tugas dari kampus, dari situ saya mulai tertarik untuk belajar menjadi seorang entrepreneur,” kenangnya.

Semangat masa kuliah itu yang dibawa sampai dia kembali ke kampung halamannya Kota Bima pada tahun 2008. Tak seperti kebanyakan orang, ijazah yang dia bawa tidak lantas membuat dirinya berpikir untuk menjadi seorang PNS/Kantoran. Dengan bekal ilmu yang dia miliki di bangku kuliah, Anang mencoba menjual kemampuan keilmuannya yaitu di bidang teknik kimia bisa menjadikan sebuah produk yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Salah satu karya anak ke-5 dari 6 bersaudara ini adalah menciptakan alat untuk mengolah/memurnikan air nira (tuak manis/oi ta’a dalam bahasa Bima) hingga bisa bertahan lebih lama dari biasanya. Sayangnya, karya yang sebenarnya potensial untuk menambah nilai jual produk pertanian lokal khususnya daerah Kota Bima timur ini tidak mendapatkan apresiasi dan respon positif dari pemerintah daerah.

Kegagalan dalam mengaplikasikan ilmu tidak lantas membuat pengusaha muda ini berkecil hati. Keyakinannya, tanpa ada dukungan dari pemerintah pun dirinya bisa memulai usahanya sendiri. Bisnis pertamanya di Kota Bima. Pada tahun 2009  mulai membuka bisnis percetakan. Skill design grafis yang dia miliki, serta peluang pasar cetak foto instan yang pada masa itu masih jarang dimiliki masyarakat Bima membuat usahanya kebanjiran job.

Pengasilan dari bisnis percetakan ditabung sedikit-demi sedikit sehingga dia memiliki cukup modal untuk membuka usaha lain. Dia lantas membeli sebuah gerobak dorong dan mulai merintis penjualan singkong rasa yang pada waktu itu masih terbilang baru di Kota Bima. Keinginannya praktis mendapat respon beraneka ragam dari orang-orang yang mengenalnya, bahkan ada yang menyebutnya memiliki ide yang ”gila”, mengingat latar belakang pendidikannya.

Kendati pada awal merintis usaha ini jelas mendapat tentangan dari keluarga dan orang-orang dekat, keinginan kuat, semangat dan kegigihannya mengelola usaha membuat bisnis ini semakin berkembang. Usaha singkong rasa yang dia labeli dengan nama dagang Betela ini tidak pernah sepi peminat. Setiap harinya Ia mengaku bisa menghabiskan satu sampai dua karung ubi kayu (singkong) yang selalu habis terjual. Usaha Betela ini terus berekspansi hingga memiliki 4 cabang yang dikelola oleh karyawannya dan juga akan membuka peluang usaha (frenchise/bermitra) dengan siapa saja yang mau bermitra.

Pada tahun 2010, keinginan untuk lebih mengembangkan usahanya begitu kuat. Dia mengaku, setelah kunjungannya ke Bali dan terinspirasi dengan segelas kopi luwak yang berharga sangat mahal,muncul niat membuka sebuah kedai kopi di Kota Bima. ”Saya sangat penasaran, bagaimana suasana kedai dan gengsi segelas kopi bisa begitu membuat perbedaan signifikan dalam menentukan harga,” ungkapnya.

Akhirnya sekembalinya ke Bima, dia mulai melakukan survei pasar mengenai tingkat animo masyarakat Bima terhadap kedai kopi (cafe). Survei kecil-kecilan dengan bertanya acak kepada beberapa orang ini juga menjadi dasar perencanaan Anang dalam memilih lokasi kedainya didirikan,dan akhirnya memutuskan akan membuka usaha cafe di kompleks pertokoan Gunung Dua, dipinggir jalan protokol antara Raba dan Bima yang terbilang strategis. Untungnya, Anang memperoleh kemudahan mencicil pembayaran sewa sehingga biaya yang dibutuhkan untuk membangun tempat usaha semakin ringan. Dengan modal awal Rp.200 ribu untuk membeli peralatan dan bahan kopi, serta keuntungan harian Betela dia gunakan untuk membayar jasa tukang dan diapun mulai mendirikan usaha barunya itu.

Suasana malam di Yuank Cafe

Aneka ragam menu kopi dari berbagai daerah di Indonesia ada di cafe ini, racikan berbahan dasar kopi juga ada, dan menu-menu lain juga seperti aneka jus,aneka minuman hangat dan aneka makanan ringanpun siap tersaji di cafenya. Pada cafe yang diberi nama Yuank Cafe & Coffee Shop ini, Anang tidak lantas melupakan unsur Betela yang telah dia rintis. Bahkan singkong dan kentang goreng dengan bumbu khusus itu seakan menyempurnakan menu minuman kopi yang enak namun terjangkau dan menjadi ciri khas cafe-nya.

Usaha entrepreneur muda ini bukan tanpa hambatan. Kepada redaksi Anang mengaku sejak merintis usaha gerobak dorongnya hingga berbisnis kuliner, faktor cuaca yang sering menjadi penghalangnya untuk bekerja. Apabila hujan turun, praktis pembeli menjadi berkurang. Faktor sumberdaya karyawan juga kerap menjadi tantangan usahanya. Perlu kesabaran yang lebih dalam mengarahkan mereka untuk bekerja profesional dengan dedikasi dan kejujuran. Untuk hal ini dia sangat optimis bahwa tak ada kata tidak bisa untuk mendidik dan membuat manusia berubah. ”Dalam prinsip manajemen yang saya pakai, saya dan karyawan itu saling membutuhkan, karena itu harus saling mengerti dan banyaklah bersabar,” ungkapnya.

Berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, bukan menjadi masalah yang cukup berarti. Yuank Cafe bermitra dengan beberapa orang petani binaan yang menyediakan suplay singkong setiap hari untuk usahanya. Dia juga memanfaatkan industri-industri skala rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan lainnya seperti es batu dan sebagainya. Diakuinya, hal ini sangat membantu dalam menjamin ketersediaan bahan  baku  setiap hari dan lebih dari itu dengan memberdayakan lebih banyak orang maka akan lebih banyak pula orang yang bisa dibantu ekonominya.

Kini usaha Cafenya berkembang pesat. Mengusung motto: ”Orang cerdas nongkrong di Yuank, mau cerdas ya nongkrong di Yuank” karena hampir semua pengunjung yang datang adalah orang-orang terpelajar yang ingin bersantai ria dan mengedepankan adalah hal-hal positif. Setiap minggu selalu saja ada event yang digelar untuk memikat hati pengunjung setia, mulai dari pegelaran musik akustik, stand-up comedy, nonton bareng pada setiap momen pertandingan sepak bola/motoGP, juga tak jarang juga dijadikan tempat diskusi para intelektual muda. Dibantu oleh istri tercinta, kreatifitas owner Yuank Cafe ini tidak berhenti sampai disitu, aneka menu baru dihadirkan untuk menambah variasi sajian. Layout tempat dan ornamen khas kedai kopi terus Ia dikembangkan untuk menghadirkan kenyamanan pengunjung yang ingin bersantai melepas penat bersama kawan-kawan dekat.

Diakhir pertemuan kami, tak lupa Anang membagi kiat-kiat suksesnya kepada pembaca. Sebagaimana yang Ia terapkan, untuk menekuni sebuah usaha kita harus berawal dari sebuah perencanaan yang matang. Perencanaan itu juga harus segera dieksekusi agar semangat usaha kita tidak keburu padam. ”Tetap fokus dengan target-target yang ingin kita capai, dan sugestilah diri anda bahwa anda bisa mencapai target itu,” ungkap pemuda kelahiran Bima ini. Selain itu dia menekankan pentingnya gigih berjuang, jangan pernah biarkan keputus-asaan meracuni semangat hidup kita, dan tentunya selalu ingat pada Allah SWT, baik disaat terjatuh maupun dikala bahagia. [Adv/BQ]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *