Ini Dia Keunikan Penobatan Sultan Bima

Kota Bima, Kahaba.- Prosesi Penobatan Sultan Bima terbilang unik. Terbagi dalam dua item utama kegiatan, pada zamannya dulu salah satunya mata acara dilaksanakan di tengah Pasar Raya Bima. Dalam prosesi pelantikan Sultan bima ke XVI pada Kamis (4/7/2013) ini, prosesi tersebut direkonstruksi kembali dengan mengacu pada tuntunan pelantikan sebelumnya.

Prosesi Lanti dalam rangkaian upacara adat Tuha ro Lanti Sultan Bima ke XVI . Foto: Arief

Prosesi Lanti dalam rangkaian upacara adat Tuha ro Lanti Sultan Bima ke XVI. Foto: Arief

Budayawan Alan Malingi dalam tulisannya mengungkapkan, pada jaman dahulu kedua prosesi ini digelar di tengah Pasar raya Bima (Amba Na’e). Putera mahkota atau Jena Teke diantarkan ke Amba Nae dengan berpakaian ala rakyat jelata dengan hanya mengenakan sarung. Di tengah pasar itu terdapat seongggok tanah yang posisinya lebih tinggi dari sekitarnya (dana ma kabuju). Prosesi ini disaksikan oleh rakyat yang berasal dari berbagai pelosok yang hadir  di pusat aktifitasnya masyarakat pada masa itu.

 Di depan onggokan tanah tersebut, putera mahkota duduk berhadapan dengan Para Anggota Majelis Adat (Sara Dana Mbojo). Kemudian Datang Ncuhi Dara (Kepala Suku) dan duduk di atas onggokan tanah itu lalu disusul oleh calon Raja. Kemudian calon raja duduk dalam pangkuan Ncuhi Dara.

Secara bergiliran Anggota Majelis Adat, Para Ncuhi, Jeneli dan Tureli, bahkan sampai Gelarang melontarkan kata-kata kasar dan caci maki kepada calon Raja/Sultan untuk menjalankan pemerintahan berdasarkan Islam, Adat dan keinginan seluruh rakyat. Mereka mengeluarkan berbagai senjata dan keris terhunus sebagai bentuk kritikan dan ancaman terhadap calon raja/sultan Dengan tenang, dibawah pangkuan Ncuhi Dara Putera Mahkota  tekun mengikuti prosesi itu.

Kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh para pejabat hadat itu antara lain : “Apabila Raja bertindak lalim, maka senjata-senjata ini (Parang, Tombak, Kapak) yang akan merobek tubuh Tuan Raja.” Kalimat dan kata-kata itu dilontarkan secara bergantian oleh para pejabat dan Ncuhi.

Setelah mendengar semua cacian dan ancaman itu, Putera Mahkota bangkit dengan disaksikan seluruh Majelis Adat dan Rakyat. Dia berpidato dan sekaligus memberikan maklumat kepada seluruh rakyat dengan ucapan “Katohompa Wekiku Sura Dou Morina Labo Dana (tidak perduli untuk diriku, asalkan untuk rakyat dan kehidupan  negeri).

Mendengar ucapan dan sumpah setia calon Raja itu, para Majelis Hadat, Ncuhi, Jeneli, Tureli dan Gelarang memberi hormat dan disambut gegap gembita dan tepuk tangan seluruh rakyat yang hadir. Calon Raja meninggalkan tempat upacara dan diarak menuju ke Istana.

Dalam prosesi penobatan dan pelantikan H. Ferry Zulkarnain ST sebagai Sultan Bima pada hari Kamis (4/7/2013), acara ini dikemas sedemikian rupa sehingga diharapkan dapat merekonstruksi prosesi Tuha ro Lanti sebenarnya yang pernah dilakukan disaat upacara pelantikan Sultan Bima pada zamannya.

Upacara adat yang dalam bahasa Bima disebut sebagai Tuha ro Lanti ini secara garis besar terdiri dalam dua mata acara. Acara pertama berupa penunjukan Sultan baru oleh para perwakilan masyarakat (ncuhi) yang dikenal sebagai prosesi Tuha.

Diawali dengan berkumpulnya para Ncuhi yang dipimpin oleh Ncuhi Dara untuk bermusyawarah dalam menentukan pemimpin Dana Mbojo (daerah Bima). Para Ncuhi berembuk menilai kepatutan dan kepantasan calon Sultan untuk diangkat menjadi Sultan Bima dan setelah menemui kata sepakat, nama calon pemimpin itu kemudian disosialisasikan dan dimintai pertimbangan serta pendapat kepada masyarakat.

Prosesi sarat nilai demokrasi ini dilakukan di tanah yang lebih tinggi daipada tanah di sekitarnya atau dalam bahasa lokal disebut dengan dana ma kabuju. Dalam kegiatan penobatan Sultan ke XVI ini, prosesi Tuha dilakukan di halaman depan Istana Bima dengan membangun dana ma kabuju buatan.

Selanjutnya dilaksanakan acara Lanti yang dilakukan di pelataran istana Bima oleh Ruma Bumi Partiga. Calon Sultan yang akan dilantik, duduk bersila di atas tikar kecil (Dipi Umpu) untuk menggambarkan bahwa sebelum menjadi sultan posisinya sejajar atau sama dengan rakyat biasa dan dilahirkan oleh rakyat.

Pada prosesi  lanti ini Gelarang Na’e menyampaikan harapan rakyat kepada Sultan, yang berisi harapan, pesan, dan peringatan dari rakyat. Kemudian ditutup dengan acara Makka, yang merupakan penguatan pesan itu oleh Bumi Renda yang disampaikan secara heroik. [BQ]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *